000000000 Buku ke 305 | Pagan Press

Ngimbang, Pagan News – Buku Jagoan Muda Pandhalungan,  karya M. Ainul Budi, pewarta Jawa Pos Radar Jember, tercatat sebagai buku terbitan Pagan Press yang ke 305.

Catatan itu termaktub dalam daftar urutan pengajuan nomor ISBN (International Standard Book Number) yang tertera di akun penerbit, sejak aktivitas penerbit tersebut bermula.

Perlu diketahui penerbit Pagan Press didirikan pada 10 Oktober 2014  berdasarkan Akta No 37 di Kantor Notaris Evie Mardiana Hidayah, Surabaya. Dalam awal aktivitasnya, Pagan Press menerbitkan buku untuk pertama kalinya berjudul Bukan Kutukan Hujan kumpulan cerpen karya M. Anshor Sjahroni, pada November 2014.  Tepat pada tahun keenam, persisnya di hari ulang tahun Pagan Press 10 Oktober 2020 inilah bersamaan dengan terbitnya buku Jagoan Muda Pandhalungan.  Buku tersebut berisi kumpulan biografi singkat serta perjuangan para atlet muda Jember.

“Buku akan diluncurkan dan didiskusikan tanggal 10 Oktober 2020 di Jember, Mas,” ucap Ainul Budi pada Pagan Press saat kali pertama menyerahkan naskahnya.

M Ainul Budi lahir di Sidoarjo, 28 Desember 1995 silam. Tumbuh dan berkembang di kota Delta, Sidoarjo. Mengenal olahraga pertama kali tahun 2002, sepakbola. Pertama kali melihat sepakbola di Stadion Gelora Delta, sekaligus cinta pertama kepada klub Deltras Sidoarjo waktu itu. Sejak itulah, saya penggemar Deltras dan menjadi bagian dari suporter setianya, Deltamania. Anak bungsu dari empat bersaudara. Ayah H. Sugianto Sudjak dan ibunda tercinta Faida. Bersama kakak pertama saya drg. Eling Suganda, kedua Ir. Arie Laksana dan ketiga almarhum Adi Chandra. Ketiga kakak saya sebenarnya mantan atlet junior bulutangkis. Tetapi, akhirnya mereka memilih jalur akademik masing-masing, tak memilih melanjutkan karir bulutangkisnya.

Menimba ilmu mulai dari TK Dharma Wanita, SDN Sidokare IV Sidoarjo, SMPN 2 Sidoarjo, SMAN 3 Sidoarjo, dan Fakultas Hukum Universitas Jember, hingga mendapat gelar sarjana. Terhitung mulai akhir bulan Desember 2018 saya menjadi bagian di Jawa Pos Radar Jember sebagai wartawan. Ainul juga sempat bergabung bersama manajemen klub kebanggaan, Deltras Sidoarjo. Sejak tahun 2016 mulai memberikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengurus administrasi klub.

“Sebelumnya, tahun 2010 silam saya juga  bergabung bersama komunitas Deltamania  Cyber. Komunitas yang bergerak di media sosial, memberikan informasi seputar Deltras  Deltamania. Saya salah satu admin komunitas tersebut di semua platform medsos. Mulai tahun 2017-2019 saya juga menjadi media official resmi tim Deltras di kompetisi Liga 3,” demikian pengakuannya sebagaimana tertulis di buhul bukunya tersebut.

Beberapa liputan kompetisi dan pertandingan sepakbola yang pernah diliput, diantaranya

kompetisi Liga 3, Indonesia Soccer Championship (ISC) B 2016,  Piala AFF U-19 2018 di Sidoarjo,

Friendly Match International Indonesia versus Malaysia 2014, Friendly Match Indonesia versus

Syria 2014, Piala Soeratin U-17, dan Liga 1 2019.  Ainul mulai belajar menulis dengan intens dan serius di Jawa Pos Radar Jember. Serta mendapatkan begitu banyak pengalaman berharga, suka duka selama menjadi wartawan di Jember.

“Kode inisial saya di Koran Jawa Pos Radar Jember adalah bud,” tandasnya.

Yang Pertama di Jember

Sebagaimana dilaporkan RADARJEMBER.ID buku tersebut diluncurkan dan didiskusikan di Kafe Semeru, 10 Oktober 2020. Buku karyanya tersebut mengisahkan potensi atlet muda berbakat dari berbagai cabor di Jember.

Talenta atlet muda Jember membuat M Ainul Budi terkesan. Sebagai wartawan Jawa Pos Radar Jember, dia mulai mengumpulkan tulisan demi tulisan untuk dijadikan sebuah buku yang dia beri judul

Erlangga Setyo Dwi Saputra, Bramdani, Richard Arbes, hingga Rizki Dwi Febrianto adalah sederet pesepak bola asal Jember yang mampu menunjukan prestasinya di kancah nasional. Erlangga, contohnya, kiper jangkung tersebut telah masuk skuad Garuda Select II ke Inggris. Bahkan, ada juga atlet bola perempuan Nisma Francita Rusdiana yang masuk Garuda Pertiwi di Piala AFF Wanita.

Tak hanya atlet muda dari cabor sepak bola yang mampu berprestasi. Ada juga dari tenis lapangan, wushu, bulu tangkis, atletik, hingga sepeda. Total ada 17 cabor dan 42 atlet muda dari Jember yang sepak terjangnya dibukukan oleh M Ainul Budi. Buku setebal 211 halaman itu menjadi yang pertama mengisahkan tentang kehebatan atlet Jember.

“Buku ini bisa dikatakan yang pertama untuk insan olahraga di Jember. Apalagi menyajikan atlet muda yang mampu menginspirasi insan olahraga,” terang Sutikno, Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Jember. Tak hanya Sutikno, Ketua PBSI Jember Erfan Pyiambodo hingga Ketua Pelti Jember Soetriono juga merasa buku karya Budi itu menjawab keyakinan banyak pihak bahwa atlet Jember itu potensial.

Ainul mulai terkesan dengan bakat atlet muda Jember sejak peliputan kedatangan Febriana Dwipuji Kusuma di Jember. Febriana adalah pebulu tangkis Jember, ganda campuran di Pelatnas senior PBSI, yang juga juara dunia junior di Rusia, tahun lalu. Berangkat dari sana, Budi tertarik menggali informasi tentang atlet muda di Jember. “Ternyata hebat dan banyak. Saya kira hanya sepak bola dan bulu tangkis. Tapi banyak cabor. Bahkan, cabor yang tak terduga pun ada atlet muda yang hebat dari Bumi Pandhalungan ini,” tutur Ainul Budi.

Menurut Budi, perjuangan atlet Jember itu hebat. Ada yang secara ekonomi tidak mampu, tapi berhasil mendulang prestasi. Seperti David Kuswara, atlet gulat. “Ada atlet yang secara ekonomi memprihatinkan. Rumahnya masuk di gang-gang dan dikenal sebagai kawasan miskin di daerah JL KH Shidiq,” terangnya.

Bahkan, ada juga atlet bola yang pernah menjadi striker Persid hingga pernah mengantarkan Jember United (JU) Junior juara Piala Soeratin 2014 dan berprestasi di lompat jauh cabor atletik.

Budi mengaku sempat patah semangat untuk meneruskan tulisannya menjadi buku. “Penyakit lama, yaitu malas,” katanya. Awal 2020, menjadi titik balik dan pelajaran hidup bagi penulis untuk meneruskan cita-citanya itu.

Dia bertekad tak boleh ada kata menyerah dalam kehidupan. Pandemi korona juga menjadi tembok penghalangan yang harus dilewati. “Badan terkurung di kosan. Tapi pikiran harus ke mana-mana,” jelasnya. Karena itu, tepat pada 10 Oktober kemarin, M Ainul Budi merilis buku pertamanya di Kafe Semeru.

Buku tersebut di dalamnya juga membagikan tantangan bagi atlet junior sebelum masuk level senior. Salah satunya adalah stars syndrome. Penulis pada 2018 pernah wawancara dengan Head Coach Timnas U-16, Fakhri Husaini. “Mereka bukan bintang, tapi calon bintang,” kata Fakhir Husaini. Attitude yang baik dari atlet muda dapat menjaga talenta mereka tak terkikis berbagai masalah dan perkembangan karirnya.(S.Jai)