Buku Unggulan

Dia yang Nyaris Melampaui Takdirnya

Sejumlah buku kami mendapat respon yang mengejutkan, baik oleh karena meraih penghargaan, maupun sebab lain semisal jumlah eksemplar cetak yang tak biasa, sambutan bagus dari pembaca mulai dari pujian maupun kritik terhadapnya. Kami merangkum diantaranya….

ANTOLOGI 5 LAKON AKHUDIAT
Penulis Akhudiat

Kota kawedanan (kini kecamatan) Rogojampi hanya dilintasi selajur “jalan beraspal” dari Jember ke Banyuwangi.  Rogojampi berada pada kepanjangan Jalan Banyuwangi dari batas kota Jember dan Jalan Jember dari batas kota Banyuwangi.  Jika  Anyer ke Panarukan dibangun pada masa Gubernur Jenderal Daendeles—kepanjangan tangan Napoleon Bonaparte di Hindia Belanda untuk memerangi Inggris, maka Panarukan-Banyuwangi-Rogojampi-Jember-Probolinggo mungkin masa pembangunan besar-besaran “politik etis” di mana Belanda mengembalikan kekayaan yang dikuras dari Hindia-Belanda.  Semua lajur jalan ini diteduhi pohon-pohon asam Jawa.

Rogojampi yang kawedanan kebagian pembangunan pasar, pemadam kebakaran yang digerakkan pompa tangan (gedungnya disebut “rumah pompa” dekat pasar), pasar hewan, tempat penyembelihan hewan, “standplaat” oplet/dokar/becak.  Juga pegadaian, kantor PTT (pos-telgram-tilpun), gudang garam, stasiun kereta api, jembatan kali Lugonto, bendungan Widoro Gayung (“Concrong”).  Dan kawedanan serta Sekolah Rakyat Rogojampi I  tempat saya belajar tingkat dasar. “ Sekolah rakyat” nomenklatur sejak pendudukan Jepang.

Benar-benar gedung sekolah idaman:  di tepi jalan besar, halaman luas berpasir dengan pohon waru dan kersen, halaman belakang berpohon apokat dan kamar kecil yang menjorok di atas sungai.  Pintu dan jendela besar-besar, sirkulasi udara sangat nyaman karena langit-langitnya tinggi.

Saya sekolah dasar sampai kelas 6 di Rogojampi.  Kupikir dulu Rogojampi adalah toponim paling ganjil dan satu-satunya di atas peta bumi, ternyata di dekat Sooko, Mojokerto, ada kembarannya:  Jampirogo.  Dua desa yang  sama uniknya, ya kan?

Yang lebih menarik perhatian saya bukan SR  I  dan tetangganya Pendopo Kawedanan itu, tetapi ada di seberang jalan di barat SR:  kedai buku dan majalah.  Saat istirahat saya menyeberangi jalan dan “ngintip” dunia luar sekolah dan luar Rogojampi di halaman-halaman majalah dan koran  Surabaya. Ya, curi-curi baca.  Tidak mampu beli.  Uang jajan hanya setali (25 sen):  15 sen nasi pecel atau rawon dan 10 sen ketan sambel.  (1 rupiah = 100 sen). Pengintipan saya teruskan pembacaan sampai tuntas di rumah Pakde Jururawat yang berlangganan “Terompet Masyarakat” dan majalah “Minggu Pagi” (Yogya).  Di salah satu nomor Minggu Pagi saya baca cerpen Motinggo Boesje “Jarum Syringe”. Masih di rumah Pakde malam hari bersama ibu-ibu mendengarkan serial ketoprak Cokrojio RRI Yogya.  RRI juga menyiarkan sandiwara radio yang disutradarai John Simamora.  Di RRI Yogya satu acara lagi yang sangat hebat:  Obrolan Pak Besut dan Man Jamino.

Saya punya acara sendiri di malam hari.  Pulang sekolah pukul satu siang atau masuk sore pulang pukul 4 sore.  Lalu bermain di halaman-halaman rumah siapa saja atau paling sering main layang-layang di kuburan.  Dari kuburan tengok ke timur masih bebas-jelas, belum ada bangunan, tampaklah “kelap-kelip laut di Banyualit”—kini dekat desa pesisir itu lapangan terbang perintis Blimbingsari.  (Proyek pembangunan lapter Blimbingsari yang sempat “memenjarakan dua Bupati Banyuwangi” adalah “belokan sejarah” dalam riwayat hidup saya).

Pukul 6-7 malam ngaji Quran untuk anak-anak (kini jadi lembaga TPQ—Taman Pendidikan Quran) di surau Mbah Najar tukang sunat.  Saya disunat setelah naik ke kelas 2.  Sehabis isya sesudah makan malam:  saya kluyuran se antero Rogojampi.  Sebelum “New York After Midnight” (1984, 1991, 2001, 2002) sudah kususuri “Rogojampi Nights”.  Jujugan pertama bioskop Sampurna, nonton koboi, Mickey Mouse, film-film Jakarta (“film Jowo”) dan Malaya (Malaysia).  Atau di standplaat oplet yang sudah sepi bagai lapangan nonton bakul jamu main sulap. Permainan sulap oleh bakul jamu Mustapa dari Banyuwangi selalu dikagumi penonton  setiap Rebo,  hari pasar hewan,  di bawah pohon-pohon besar trembesi.

Setiap habis panen padi dan palawija, Rogojampi dapat giliran digelari Pasar Malam Keliling.  Yang pasti datang adalah komidi kuda putar, kincir raksasa, pengendara motor dalam “tong setan/edan”, panggung permainan tinju, atau sulap kelas professional, dan judi rolet dengan hadiah perabotan rumah tangga.  Pertunjukan di “tobong” berupa  ketoprak, wayang orang, tonil/sandiwara turunan komedi stambul Kintamani atau Bintang Surabaya atau Ermina Zaenah Show atau Srimulat yang melegenda.

Di samping tinju, sulap, dan tobong-tobong, Pasar Malam juga menjual kue baru dan aneh bagi Rogojampi:  kue dolar dan donat, dihasilkan oleh mesin otomatis, dan menggelar pameran berisi kereta api listrik bergerak memutari maket-maket “kota masa depan”.  Pasar Malam Keliling bagi Rogojampi semacam pengantar seni dan teknologi sesuai lingkungan dan jamannya.

Di luar tobong dan Pasar Malam adalah tandak atau ledek atau kentrung ngamen dengan “lighting system” obor dari bambu, sesekali datang dan keluar-masuk kampung.  “…..suatu malam ketika umur 7 tahun, di kampung Krajan, saya nonton kentrung konon dari Trenggalek…..”

Sandiwara atau tonil kreasi orang Rogojampi sendiri tampil setiap peringatan Hari Kemerdekaan RI atau terkenal dengan sebutan “sandiwara agustusan”, dengan layar turun-naik berbabak-babak di Gedung Nasional Indonesia (GNI).

Pertama kali drama satu babak dan layar hanya sekali naik sekali turun, dipentaskan para pelajar lulusan SMA Malang dan Yogya, berjudul Awal dan Mira karya Utuy T. Sontani.  Ketika itu Rogojampi tidak memiliki tingkat SMP dan SMA.  Drama sebabak karya Taufiq Ismail dipentaskan keliling Jawa Timur oleh grup Lumajang pimpinan Emil Sanosa.  Dan secara rutin setiap Syawal di Idul Fitri hari ke 7 para pelajar yang sekolah di Yogya, anggota Teater Muslim, berpentas dalam acara halal-bi-halal atau syawalan.

Ngaji, sekolah, main layangan di kuburan, terkadang bersamaan Mbah Modin baca talqin di atas kubur baru, kedai buku, sandiwara radio, bioskop, pasar malam, pentas GNI, dan malam-malam Rogojampi—mampir dalam proses kreatifku…..

THEATRUM, Antologi 10 Lakon

Penulis Akhudiat; Editor S. Jai; Tebal 168 halaman; Pagan Press, Agustus 2017

Tari/teater lahir dari rahim primordial yang sama:  upacara, ritus, laku ritual.  Dalam tari upacara/teater upacara tiada penonton tiada pemain, semua adalah pemain semua adalah penonton.  Laku ritual diawali mantra/doa/zikir yang menimbulkan vibrasi, gelombang getar, baik suara, bunyi, maupun gerak, geletar, gemetar, gemertak.  Vibrasi dibayangkan menyentuh alam semesta yang bersama ber—mantra/doa/zikir.  Vibrasi berniat meraih Sang Pencipta. Selama masih ber-upacara, atawa apa pun sebutannya, teater/tari masih berdaya—berjaya. (Akhudiat)

KUMARA, Hikayat Sang Kekasih
Penulis S Jai
Tebal 429 halaman
Penerbit Pagan Press

SAYA menulis novel (Kumara, Hikayat Sang Kekasih) ini sebetulnya saya maksudkan sebagai tulisan biografi—riwayat banyak orang. Namun sebagai bentuk sastra, saya menggunakan prespektif (sudut pandang) danyang desa.

Saya terinspirasi dari satu istilah dalam buku Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa: Kumara. Meski banyak sekali menuai kritik dan ditolak, namun buku itu menyimpan kekayaan budaya menjadi sumber ilham yang tak habis-habisnya. Sudut pandang kumara saya gali dari sana.

Kumara adalah wilayah kekuasaan danyang desa. Kumara juga berarti suara yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Dalam tradisi Hindu, Kumara adalah Sanghyang Kumara, Dewa Pelindung Bayi—salah satu putra Dewa Siwa.

Novel ini bertutur kisah tentang spirit hidup sosok-sosok pribadi masyarakat kecil di pelosok desa di Jawa—tepatnya di sebuah dusun di Kediri—menghadapi gerak pergeseran, pergesekan dan perubahan zaman. (S. Jai)

SENI RUPA SENYAP

Penulis Agus Koecink

Kalau saya perhatikan, dari berbagai sepak terjang dan tulisan-tulisannya, antara Agus Koecink dan kucing, memiliki beberapa kesamaan sifat. Kalau setiap kucing mempunyai teritori, maka Agus Koecink juga punya teritori, yaitu Surabaya dan Jawa Timur itu tadi. Teritori inilah yang terus ia jaga sepenuh hati. Ia intai dari waktu ke waktu. Kalau ketemu “mangsa” (hal menarik), kemudian ia “terkam” (baca : ditulis). Bahkan saat ia “terkam”, ia kunyah-kunyah dulu hingga lumat; tidak untuk dimakan sendiri, justru kemudian dibagi-bagi kepada yang lain, dalam hal ini pembaca. Itulah cara dia “mengeong”, menjaga seni rupa Surabaya, Jawa Timur termasuk di dalamnya Madura.

Baik mengeong melalui media khusus seni rupa, seperti media massa khusus seni rupa (Visual Arts dan Majalah Galeri) yang terbit di Jakarta, maupun media massa umum (koran) local Surabaya, serta katalog-katalog pameran. Temanya bermacam-macam, namun sebagian besar menitik beratkan pada lokalitas — Surabaya dan Jawa Timur— sebagaian dalam perspektif nasional dan global. Simaklah tema-tema tulisannya yang kemudian dialih wahanakan menjadi buku ini : Menimbang Lokalitas, Perihal Seni Rupa Surabaya,  hingga masalah Perempuan dan Bahasa tubuh, Gerakan Seni Rupa Komunitas, Mempertanyakan Nasionalisme, dan Apresiasi.

Akhirnya, atas terbitnya buku ini saya ikut bersyukur dan mengucapkan selamat kepada adinda Agus Koecink sekeluarga. Dan kepada para pembaca tak lupa saya ucapkan selamat membaca. Semoga dari isi tulisan-tulisan ini dapat memperkaya wacana seni rupa Indonesia. Dan secara khusus dapat menjawab pertanyaan krtitis : Apakah seni rupa (di) Surabaya dan Jawa Timur itu ada? Ono rek! Meong!

Yusuf Susilo Hartono

RUMAH DI JANTUNG KOTA

Novel  Zoya Herawati

Bagi Markidin, nasib baik hanya ada dalam imajinasi belaka.  Ia terlindas roda zaman karena sedikitpun tak memiliki kekuatan sebagaimana orang-orang kaya macam Joyodipuro menaklukkan keadaan.

Sepanjang umurnya Cuma kesia-siaan yang ia temui.  Bahkan ketika keadaan menghendakinya meninggalkan rumah miliknya yang terletak di jantung kota, ia tak menerima uang ganti rugi, sebab orang-orang besar di kampungnya telah mempermainkannya. 

Baginya hidup hanyalah sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan

WARIA, Relasi, Jati Diri, Ekspresi

Penulis Agus Koecink

Dalam buku ini, saya lebih menekankan pembahasan pada aktualisasi identitas waria dan tanggapan penonton terhadap aktualisasi waria dalam pertunjukan Ludruk Irama Budaya Surabaya.

Saya mencoba  mengidentifikasi sejumlah masalah, bahwa perwujudan identitas waria merupakan hasil dari proses yang diciptakan. Proses penciptaan yang membutuhkan pengalaman dan situasi sosial. Pengalaman dan situasai sosial itulah yang memunculkan aktualisasi identitas waria dalam pertunjukan Ludruk Irama Budaya Surabaya. Aktualisasi identitas inilah yang nantinya akan menjadi pembahasan yang akan coba saya uraian dalam perspektif identitas. Pertanyaannya, adalah; bagaimana perwujudan aktualisasi identitas waria dalam pertunjukan Ludruk Irama Budaya Surabaya? Lantas, bagaimana pula tanggapan penonton terhadap aktualisasi identitas waria dalam  pertunjukan Ludruk Irama Budaya Surabaya?

Melalui buku ini, saya sedapat mungkin  berusaha mengungkap aktualisasi identitas waria dan tanggapan dari penonton dalam ranah estetik. Betapa topik  aktualisasi identitas waria sebagai titik sentralnya adalah berdasarkan anggapan bahwa;  pemain waria selama ini dipandang hanya menjadi bagian dari sebuah pertunjukan Ludruk, tanpa dilihat dengan sungguh-sungguh peran mereka dalam proses pencarian jati diri untuk menunjukkan identitasnya. Patutlah kita mengkaji untuk memperkaya khazanah informasi dan ilmu pengetahuan tentang kaum waria.

Sebagai penutup pengantar buku ini, penting saya tegaskan kembali harapan saya, bahwa sedapat mungkin buku ini mampu menjadi sumber yang cukup komprehensif  tentang aktualisasi identitas waria dalam seni pertunjukan, utamanya pertunjukan ludruk yang ada di Kota Surabaya.  Sehingga, untuk selanjutnya bisa menumbuhkan  minat bagi upaya pengkajian lain masalah seni pertunjukan rakyat yang sarat dengan dinamika dan realitas sosial  ini, yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan dan hidupnya seni pertunjukan rakyat.

MENJEMPUT MASA DEPAN TREM SURABAYA

Penulis Abdul Hakim; Terbit Maret 2017; Tebal 520 halaman

Buku ini memotret dengan detail sejumlah persiapan dan pengkajian yang dilakukan Pemkot Surabaya dalam rangka mewujudkan angkutan massal cepat  (AMC) di Kota Surabaya, beserta permasalahan AMC yang diketahui molor dari waktu perencanaan. 

Disamping itu, dalam buku ini mengupas sejarah perkeretaapian di dunia dan lebih khusus di Indonesia pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan keberadaan trem di Jakarta dan Surabaya pada massa itu dikupas dalam buku ini. Perkembangan transportasi massal mulai MRT, LRT hingga trem pun dibahas. Sampai pada akhirnya, kejayaan trem di Surabaya tempo dulu.

Kini bola berada di tangan Presiden RI Jokowi Widoro. Jika  Peraturan Presiden (perpres) tentang AMC di Surabaya itu keluar, maka pembangunan mega proyek AMC di Surabaya bisa segera dimulai. Warga Kota Surabaya saat ini menunggu hadirnya transportasi trem yang sempat jaya di zaman Pemerintahan Hindia Belanda. Mereka berharap ada yang baru di Kota Pahlawan yakni mewujudkan nostalgia itu menjadi kenyataan. 

MERAJUT KEMELUT: Risma, PDI Perjuangan dan Pilkada Surabaya

Penulis Abdul Hakim dan Didik Prasetiyono; Pengantar Pramono Anung; Editor S Jai; Penerbit Pagan Press, Maret 2016, Tebal 454 halaman + 24 halaman album foto berwarna

MERAJUT KEMELUT: Risma, PDI Perjuangan dan Pilkada Surabaya ditulis wartawan Antara, Abdul Hakim bersama Didik Prasetiyono, mantan Komisioner KPU Jatim yang juga Direktur Eksekutif Surabaya Consulting Group (SCG) ini, lebih banyak menekankan laku perjalanan karir politik Tri Rismaharini setahun terakhir menjelang Pilkada Surabaya 2015.

Buku bergenre biografi politik ini adalah suatu ikhtiar menganggit pelbagai catatan, peristiwa, pernik-pernik pemikiran, dan tentu saja percikan sejarah politik di seputar Pilkada Surabaya. Menyingkap lebih mendalam sejumlah persoalan penyebab ketegangan hubungan Risma dan PDI Perjuangan hingga titik temu di Pilkada Surabaya 2015. Bagi Risma, sebagaimana sempat diungkapkannya, angka 2 (dalam nomor urut pasangan) adalah victory atau keberuntungan.

Sebuah buku yang banyak dilandasi dari pengalaman para penulisnya berinteraksi dan dekat dengan sumber-sumber penting di lingkaran sejarah politik Surabaya.

TEATER PERUBAHAN

Penulis: Zainuri; 272 Halaman

Siapa yang membebaskan bahasa tubuh? Ketika konstruksi penyelenggaraan peran sudah mulai bisa didirikan, mereka mulai tidak kerasan dengan tubuhnya yang begitu verbal untuk mencapai pengalamannya. Lalu saling menindak dari peran satu ke peran lain untuk menciptakan iklim yang berkembang dalam pertumbuhan kematangan perannya. Begitulah cara mereka melihat peranannya selalu dicerminkan pada kebutuhan sesama teman yang sudah paham liku-liku hidupnya. 

Muncul abstraksi dialog yang penekanannya lebih padat dan penyampaiannya lebih puitis. Sedang gerakannya lebih tenang dan kental untuk memberi rasa kedalaman tentang riwayat hidupnya. Bermain teater baginya bukan membuat catatan dalam sebuah pertunjukan tapi mereka sedang menata sejarah panjang yang belum mereka ikrarkan sebagai perjalanan manusia.

Membebaskan bahasa tubuh baginya bukan rangkaian ceritanya yang disusun di atas panggung. Membebaskan bahasa tubuh adalah bagaimana pertunjukan di panggung menjadi tempat untuk mempertemukan dirinya dengan ruang abstraksi yang selama ini sangat sulit dia dekati. Pertemuan-pertemuan inilah yang membuat mereka merasa jadi perhatian.

Baginya ruang yang bisa dicerna dan bisa dibuat untuk bertahan hanya ruang riil. Dengan munculnya proses teater yang bisa direnungkan ini, mereka mulai punya ruang baru. Yaitu ruang abstraksi yang bisa memberi pengendapan baru untuk mengubah pengalamannya. Dengan berubahnya pengalamannya ini, mereka membawa martabat baru sebagai bergesernya nilai manusia. Dari yang riil ke abstraksi, dari rasa tidak berdaya ke rasa terbuka, dari rasa takut menjadi berguna.●

PLAYON, kumpulan puisi

Penulis F. Aziz Manna

Di tengah hiruk-pikuknya dunia sastra di Indonesia, karya-karya seperti ini diharapkan  mampu “memberi muka” bagi kemajuan sastra Indonesia di negeri sendiri dulu, sebelum bermimpi memasuki sastra Internasional. (Bali Post, 3 Januari 2016)

Pilihan tematik permainan tradisional menjanjikan peristiwa, sekaligus potensi untuk membawa pembaca pada ruang-ruang personal yang dibangun atas kenangan yang bangkit dari sejarah perjalanan hidup di masa kanak-kanak. (Koran Sindo, 27 Desember 2015)

Membaca Playon, kita serasa menghadap album kenangan yang manis tapi pelik. Potongan-potongan nostalgia ingatan kolektif yang sebentar lagi purba.   (Aik R. Hakim, Jawa Pos, 3 Januari 2016)

Sangat kaya dengan metafora, yang membuat puisi menjadi lebih hidup dan tidak vulgar dalam mengekspresikan ruh budaya. Manna dengan cekatan memainkan metafora secara proporsional, sehingga puisi terasa lebih bertenaga dan tentu menyembunyikan banyak makna. Puisi-puisinya juga diwarnai analogi-analogi yang mendukung, yang juga sama-sama berfungsi menghidupkan puisi, dan menjadikannya terasa estetis. (Prof. I.B. Putera Manuaba, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlngga)

JAMALOKE, novel Zoya Herawati

Tokoh dalam novel ini adalah seorang yang pernah terlibat

langsung dalam perang kemerdekaan. Sikap patriotis sudah ditanamkan bapaknya yang sejak ia kecil selalu dijejali dengan dongeng dongeng yang menimbulkan rasa cinta terhadap tanah air.

Tetapi nasib memang tak pernah bersahabat dengannya. Sepanjang umurnya yang ditemui hanya kesia-siaan belaka. Kecintaan bayangan banyang semu tentang keberanian, harapan, dan cita cita lewat tegaknya kemerdekaan dinegerinya ia gambarkan perasaan-perasaan itu lewat Merah Putih, dua warna yang ia pun tak punya kekuatan.

Novel ini diangkat dari pengalaman seseorang veteran perang walau tidak seluruhnya, jalan ceritanya mirip dengan perjalanan hidupnya. Selebihnya, jalan cerita dalam novel ini adalah atas dasar imajinasi penulis

POSTMITOS, Esai Esai S. Jai

Tebal 557 Halaman, 65 Tulisan

Buku ini adalah catatan pribadi saya atas suatu peristiwa kesenian. Atau ‘sesuatu butiran’ dari percikan, lintasan pikiran saya terhadap permasalahan yang mungkin memperlihatkan minat saya dari waktu ke waktu—meski tak bermaksud membuat tulisan dan materi sejarah kesenian atau kebudayaan. Dengan kata lain buku ini semacam catatan kebudayaan oleh karena lebih meruang—menciptakan, mencari, mengekplorasi ruang—ketimbang menegaskan kepastian kronologis kausalitas waktunya.

Sebagai suatu catatan, kepingan-kepingan yang berserakan, bukan saja tersebab ada banyak ragam lembar-lembar berbagai masalah yang digelorakan. Melainkan, juga tak jarang diantaranya tampak seperti sketsa-sketsa yang ‘belum selesai.’ Keping-keping catatan ini saya pungut dari pelbagai jejak; media sosial, blog pribadi, situs web, termasuk sudah barangtentu dari kliping koran. Sebagian diantaranya catatan-catatan saya ini memang saya kirimkan ke koran dan tayang. Sebagian lainnya berupa makalah, materi pengantar diskusi, serta catatan harian saya.

Buku sejenis ini sangat penting ditulis, dimiliki, dibaca dan direnungkan kehadirannya lebih dari sekadar sebagai dokumentasi sejarah mental penulisnya. Melainkan bagaimana buku ini mencerminkan ikhtiar penulisnya mempertahankan moralitas karya, moralitas manusia sebagai makluk kreatif. Bagaimana penulis bersikukuh membebaskan diri dari belenggu ‘kekuatan’ yang sudah berurat berakar dalam diri kita entah itu ideologi, mitos ataukah—dalam konteks buku ini belitan konvensi sosial sebagai sasaran sistematik untuk dibuat seolah-olah ilmiah, menjadi mitos. Membongkar aturan-aturan atau kode-kode di balik mitos inilah tugas studi kebudayaan sekarang ini.●

Ngrong, Sebuah Novel