Katalog

Judul Anda Pergi ke Sini

Your content goes here. Edit or remove this text inline or in the module Content settings. You can also style every aspect of this content in the module Design settings and even apply custom CSS to this text in the module Advanced settings.

Buku-Buku  Terbitan Kami

Perjalanan kami boleh dikata cukup panjang. Semenjak aktivitas kami pada 10 Oktober 2014, hingga kini sekitar 300 buku telah kami terbitkan dalam pelbagai ragam bidang serta dari banyak latar belakang penulisnya. Informasi berikut adalah sebagian diantaranya…

BUKAN KUTUKAN HUJAN

Buku Kumpulan Cerpen Karya M. Anshor Sja’roni ini adalah buku terbitan pertama dari kami (November 2014), dan dicetak hanya dalam ratusan eksemplar saja.

Sejumlah cerpennya bagaikan dilisankan—dituturkan yang seringkali dalam tradisi sastra kita dalam babat, dongeng, hikayat, atau cerita rakyat disarati dengan pesan moral. Sebagaimana laiknya pesan moral senantiasa dilayangkan untuk mengangkat derajat ‘moral’ masyarakatnya. Penulis ini sangat piawai sebagai juru cerita menyampaikan petuah-petuah justru dalam  persimpangan bahkan paradok antara yang tutur dan yang sastra modern—dunia cerpen. Derajat seperti ini hanyalah bisa dilakukan oleh juru cerita yang memiliki energi proses kreatifnya cukup matang. 

Andaikan seorang dalang, modernitas M Anshor Sja’roni pada begitu banyaknya carangan-carangan yang dikisahkan, namun wayang sebagai cermin hidup tetap kaya ajaran. Paradok itu termasuk di dalamnya, penulis sebagai ‘pusat kekuasaan’ (satu bentuk kekuasaan tertentu—istilah Ben Anderson) di satu sisi, sementara di sisi lain, pembaca cerita adalah pengarang sebenarnya yang butuh energi kreatif tak kalah lebih besar daripada penulis sebagai juru cerita.  Kepiawaian M Anshor Sja’roni adalah kekuasaan dalam membangun ‘komunitas-komunitas yang dibayangkan.

Kepiawaian sang juru cerita juga dalam hal di satu sisi memitoskan pesan atau mengukuhkan mitos-mitos pesan—katakanlah  ideologi agama tertentu misalnya—akan  tetapi di sisi lain ia membuka ruang-ruang munculnya gugatan, pertanyaan atau bahkan mematahkannya dengan ruang kosong baru tempat tafsir bisa meluas berkembang.

NGRONGSebuah Novel

Buku ini adalah novel paling mutakhir karya S. Jai yang diterbitkan Penerbit Pagan Press, Maret 2019 lalu. Tebal 402 halaman dan dijual seharga  Rp 60.000.

—————- 

“Bagiku kau tak lain keterasinganku, tujuanku saat aku menghilangkan diriku,”

Inilah kisah cinta lelaki yang memilih jalan pengasingan diri dengan sihir seorang perempuan penyair.

“Kau adalah rumah bagiku. Kau seperti cermin bagiku sebagaimana aku cermin bagimu. Kaulah imajinasiku sendiri, yang membelah diriku menjadi dua, sekaligus kau pula kata-kata dan puisi yang mengutuhkannya kembali entah dalam sebentuk apakah,”

Sebuah novel yang mempertanyakan sikap beragama, kebebasan dan imajinasi puisi dengan menolak setiap empati, emosi, pada tokoh-tokohnya, dan lebih banyak mengajak berpikir serta menggali keanehan-keanehan darinya.

Sebuah novel percobaan dalam mengoplos ide–khususnya perihal tokoh/aktor dalam teater penyadaran Bertolt Brecht ke dalam sastra. Novel yang masih menyakini betapa gagasan baru baik dalam teater maupun sastra masih berpusar dan berkumpar pada perihal gagasan tokoh. Sejarah teater dan sastra memperlihatkan hal demikian, dengan puncak mahapenting dari pencapaian epik dan efek pengasingan Brecht. Pun NGRONG dimulai dengan satu pertanyaan; bagaimana dalam novel?

Entah mengapa, pertanyaan yang bermula dalam bahasa dramatik dan bahasa prosaic pun terus berhumbalang dan NGRONG adalah suatu pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, dan bukan sebuah jawaban. NGRONG menolak setiap empati, emosi, pada tokoh-tokohnya, dan lebih banyak mengajak berpikir serta menggali keanehan-keanehan darinya. NGRONG adalah fiksi dan rekaan dalam arti yang sebenarnya. Boleh jadi keadaan dan suasanalah yang sebenarnya tokoh dalam novel ini.

Berlatar Surabaya dan Gresik, NGRONG sebagai suatu percobaan kemungkinannya hanya dua: sukses atau sia sia

DUNIAKU DALAM 350 KATA

Kumpulan Esai karya Laili Rusmawaty ini boleh dikata produk terkini dari kami.  Buku terbaru dengan tampilan dan desain paling mutakhir.

_______________

Jika kita percaya pepatah lama ‘buku adalah jendela dunia,’ maka setiap yang sudah ada dalam dunia ini tak ada salah-nya memulai untuk menyakini bahwa ‘bahasa adalah pintu suatu kebudayaan.’

Melihat sejarah bahasa (dan sastra, juga kebudayaan) kita yang cukup panjang, maka tak ada alasan untuk tidak mencintai bahasa. Bahkan kita telah tahu; bukan hanya ‘kita’ yang turut andil besar dalam pembentukan bahasa. Tak cuma masyarakat pengguna Jawa Kuna, bangsa Melayu, lalu para ahli bahasa dan sejarah seperti Hamzah Fansuri,  Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji saja, tapi juga arsitek bahasa dari asing; seperti Melchior Leijdecker, H.C. Klinkert, selain peran para sastrawan peranakan baik Cina maupun Eropa yang tak boleh kita lupakan.

Singkat kata,  betapa bahasa adalah denyut jantung, gerak, medan perjuangan, pertaruhan, pertarungan masyarakat. Bahasalah yang terlibat begitu aktif dan masif atas bagaimana seseorang, individu maupun masyarakat hidup bersama, memandang, menangkap dan membicarakan kenyataan. Rasanya bagi setiap yang dalam keseharian bergulat dengan bahasa, tidaklah cukup sekadar menyakini bahasa adalah pintu suatu kebudayaan. Dengan kata lain; bahasa adalah kebudayaan itu sendiri yang di dalamnya termaktub kesepakatan-kesepakatan, ketegangan-ketegangan, bahkan kesewenang-wenangan.

Maka mencintai bahasa mengandung pengertian mencintai keutuhan budayanya. Utamanya perihal perbedaan. Ini mengingatkan saya pada ungkapan Saussure  ‘dalam bahasa hanya ada perbedaan-perbedaan dimana identitas kata dibentuk oleh dari melakukan perbedaan-perbedaan di dalamnya.’ Betapa setiap yang mencintai bahasa, doktrin utamanya adalah dia yang sungguh-sungguh mencintai perbedaan. Inilah saya kira tingkat keilmuan yang istimewa di ranah budaya. Kenyataan budaya  sekecil apapun, selembut bagaimanapun menjadi penting dan bermakna. Apalagi di sebalik perihal kuliner, perilaku, religi, teknologi, wisata, ritus-ritus sejarah dan lain sebagainya.

Selaku pengarang yang lebih banyak berjibaku dan kerap bergulat, bergelut dengan realitas yaitu hal yang bisa terjadi atau tidak terjadi, saya senantiasa dalam kondisi kebingungan.  Saya percaya apa kata Jorge Luis Borges; ‘yang menyalin kebingungannya sendiri dan memindahkan sistem kebingungan yang dengan hormat kita sebut filsafat itu ke dalam bentuk sastra.’

Semestinya, lepas dari soal itu, lepas pula kebingungan dalam jiwa saya. Namun demikian saya tidak tahu persis, mengapa, dan apakah ini keanehan-keanehan ataukah bukan, ketika menerbitkan kumpulan cerpen ini ternyata dalam diri saya masih berkumpar kebingungan pula.

Barangkali tersebab pertanyaan, apakah sebuah kumpulan cerpen benar-benar dibutuhkan dan dibaca? Mungkin juga bagaimana selayaknya cerpen-cerpen yang berserak dari waktu ke waktu ini kemudian bisa diikat dalam satu kumpulan buku? Boleh jadi juga lantaran sebuah kumpulan cerpen kemudian memaksa saya untuk membaca kembali, atau setidaknya menengok ulang cerita-cerita itu yang artinya juga menziarahi ingatan saya, perihal peristiwa, ide, gagasan, pandangan, mungkin pengakuan, pernyataan, pencapaian dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, menengok dunia yang sepi, sunyi, yang dalam takdir kesepiannya senantiasa mencoba bersuara, berbunyi, bernyanyi bahkan berteriak entah sebagai “hiburan,” atas nama keadilan, ataukah demi kemanusiaan.  Pada saat itulah kadangkala kebingungan itu muncul kembali, sebagaimana pada saat menuliskan cerita-cerita saat merayakan karnaval pelbagai suara; nyanyian, ingatan, kebahagiaan, cinta, kemiskinan,  kepercayaan pada Tuhan, desir angin, suara burung, gemercik air, bahkan  senandung atau kesunyian itu sendiri.  

Yang paling merisaukan saya adalah cerpen-cerpen itu saya tulis dalam situasi, keadaan, pandangan dan bahkan pernyataan estetis atau kredo yang berbeda. Sehingga terkadang saya sendiri sulit menerima betapa cerpen-cerpen itu saya tulis dalam situasi kematangan jiwa yang tak sama walaupun saya sendiri tidak sepenuhnya memiliki keberanian mengklaim apakah dari satu cerpen di masa lalu dengan cerpen lain di masa berikutnya mengandung arti lebih matang proses kreatifnya.

Semisal di suatu massa, menekuni dan menyakini suatu mazhab yang dalam kosa kata sastra kita; pemujaan pada katarsis, lantas pada masa lainnya masa itu adalah masa lalu dari dramatik, epik,  atau montase solilokui. Dengan kata lain, pada satu sisi cerpen-cerpen yang taat bersikeras membetot sisi kemanusiaan dan empati pembaca, pada sisi lain misalnya, meneguhkan diri ke dalam suatu usaha menggerakkan ke arah kesadaran-penyadaran dalam keanehan-keanehan, pengasingan-pengasingan, suasana-suasana yang lebih penting ketimbang ideologi-ideologi besar dalam sastra tempat kerinduan akan kebahagiaan dan kebebasan disandarkannya.

Pendek kata, dalam keruwetan-keruwetan itulah buku kumpulan cerpen ini diketengahkan.  Dan saya mencoba menekan kebingungan-kebingungan saya dengan menawarkan semacam strategi. Cerpen-cerpen itu saya tampilkan dalam banyak keragaman; ada yang dari sejumlah media yang cukup jauh di masa puluhan atau belasan tahun lalu, kemudian dari kliping koran yang belum cukup lama pemuatannya, termasuk juga cerpen-cerpen yang sama sekali belum pernah dipublikasikan. Bahkan termasuk cerpen-cerpen yang proses penulisannya hampir bersamaan, atau boleh jadi tumpang tindih karena bersamaan dengan ketika saya menuliskan novel-novel saya. Serta tentunya saya sertakan pula cerpen-cerpen terbaru saya, yang dengan harapan bisa terbaca kecenderungan-kecenderungan atau pencapaian estetis saya. 

Saya agak terhibur dengan keyakinan Budi Darma, bahwa sebetulnya menulis merupakan ujicoba setiap penulis terhadap kepribadiannya sendiri, yang hakikatnya suatu percakapan dengan dirinya sendiri. Begitulah, terbitnya buku kumpulan cerpen saya ini, bahwa sebetulnya betapa saya sedang menimbang diri tengah dalam keadaan, yang dalam bahasa Jawa disebut ngroweng.  (S. Jai)