000000000 Kesadaran Eksistensi dan Manusia Sebagai Peristiwa | Pagan Press

 

Catatan Kesan atas Novel “Ngrong” Karya S. Jai

Oleh A. Syauqi Sumbawi

  

Adalah sebuah keanehan, bahwa dalam upaya memahami diri sendiri, manusia malah menemukan keberadaannya sebagai misteri. Namun itulah realita hidup manusia di dunia, sebagaimana dikemukakan Alexis Carrel dalam bukunya Man the Unknown; bahwa manusia adalah keberadaan yang sukar dipahami.

Memang, tidak sedikit para ahli—terutama yang concern dalam kajian filsafat manusia—telah menawarkan varian konsepsi mengenai manusia dari berbagai perspektif. Akan tetapi hal tersebut tampaknya belum memadai serta bukan merupakan proyeksi manusia yang sebenarnya. Pemahaman konseptual seperti homo socius, homo faber, homo economicus, homo homini lupus dan sebagainya, lebih menunjuk pada ragam posisi dan peran—serta tabiat—manusia yang multidimensional. Tersepai-sepai dan tidak mencerminkan manusia secara utuh.

Kesulitan dalam memahami manusia, secara umum disebabkan oleh permasalahan hidupnya yang kompleks. Tidak hanya mengenai diri sendiri, kompleksitas tersebut juga lahir dari keterkaitannya dengan sesama, lingkungan, serta keberadaan Dzat yang dikenal sebagai Tuhan. Begitu juga keberadaan dan hidupnya yang notabene adalah kauniyah, dimana kesemuanya menempatkan posisi manusia dalam upaya memahami diri sendiri, yaitu subjek sekaligus objek, secara bersamaan.

Kompleksitas dalam diri manusia inilah yang agaknya juga menjadi fokus dari novel Ngrong karya S. Jai. Berangkat dari jalinan peristiwa yang hadir bersama cerita-cerita dan gambaran keadaan yang lantas mengemuka, permasalahan manusia—terkait hidup, mati, cinta, derita, dan bahagia—diungkapkan melalui tokoh Randu dalam upaya memahami diri sendiri. Termasuk jalan pengasingan yang ditempuh serta pelepasan segala hubungan terkait keberadaannya.

 

“Ngrong”: Antara Sastra dan Filsafat

Hadirnya novel ini, selain menambah referensi pemikiran tentang manusia, juga memperkuat persepsi tentang kedekatan hubungan antara sastra dan filsafat. Pada titik ini, jika disiplin filsafat lebih mengarah pada wacana konseptual, umumnya narasi-narasi dalam karya sastra lebih menyoroti perjuangan hidup manusia yang diyakininya, sebagaimana terlihat pada karya-karya sastrawan, seperti Albert Camus, Jean-Paul Sartre, Milan Kundera, Iwan Simatupang, dan sebagainya.

Kedekatan antara sastra dan filsafat, agaknya juga diamini oleh Camus. Suatu kali dia pernah menuliskan, “Jika anda ingin menjadi filosof, maka tulislah sebuah roman.” Yah, sebuah roman atau novel, dengan karakter tokoh utama yang misterius, yang tidak peduli dengan nilai dan norma sosial. Layaknya seorang asing, bahkan pada diri sendiri. Dan inilah yang terbaca pada tokoh Mersault dalam novel L’Etrange (Orang Asing) serta dalam karya lainnya seperti Le mythe de Sisyphe, Caligula, dan La Peste (Sampar). Begitu juga karya Jean-Paul Sartre, misalnya Le Mur (Dinding) dan La Nausea (Muak).

Pentingnya novel sebagai ruang pemikiran filsafat, barangkali dapat dijelaskan bahwa melalui novel (roman), pemikiran filsafat —kendati tidak eksplisit menunjuk filsafat tertentu, misalnya eksistensialisme atau absurdisme— akan satu langkah lebih jauh memasuki pikiran dan emosi pembaca dibanding disiplin filsafat pada umumnya. Menggerakkan dan melibatkan dalam kelindan pikiran dan muatan psikologis yang terbangun pada novel tersebut, yang barangkali beberapa jejaknya memiliki kemiripan dengan apa yang dialami oleh pembaca. Dari keduanya, apa yang dihadirkan adalah sama, yaitu sebuah pengaruh yang terpancar.

Lantas, adakah keterpengaruhan novel ini dengan filsafat eksistensialisme dan absurdisme?! Atau dengan karya-karya Albert Camus dan Jean-Paul Sartre?! Tentu perlu kajian lebih jauh untuk menjelaskannya. Akan tetapi, dua tokoh yang dikenal sebagai sastrawan-filosof itulah yang muncul dalam pikiran saya ketika membaca novel “Ngrong” ini. Permasalahan eksistensi manusia, absurditas, dan keterasingan sangat kental dalam narasi-narasi yang terbangun di dalamnya. Begitu juga romantisme dan kebebasan.

Pada novel dengan tebal xiv+388 halaman ini, berbagai permasalahan di atas merembes dari hubungan pernikahan, yang tak lebih dari sebuah kompromi si tokoh atas kehidupan seorang dewasa pada umumnya, seperti yang juga diharapkan oleh masyarakat. Akan tetapi, kehidupan yang terlembaga dalam pernikahan dan keluarga—juga ajaran agama—, bersama status sebagai suami, ayah, dan tetangga, malah mengantarkannya pada keterasingan. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:

…Dan ini berjalan belasan tahun lamanya, dan aku bertahan hanya karena aku bisa melepaskan diriku untuk menerima keadaan yang demikian. Aneh rasanya. Tetapi beginilah aku hidup. Aku tidak menjadi diriku sendiri dengan segenap cintaku, melainkan aku berusaha melihat diriku dengan bahasa, kata-kata, kalimat yang disampaikan terutama oleh istriku padaku, disamping juga tak jarang dengan gerakan tangan, sorot mata pandang, tangisan, dan yang paling sering dengan amarahnya padaku.

Lalu siapa sebenarnya diriku, bagaimana keadaanku? Entahlah. Keadaanku pada suatu waktu seperti batu. Pada kesempatan lain seperti layang-layang yang hilang benang. Berikutnya bagaikan binatang atau pernah juga sih aku memang seperti seorang laki-laki, seorang suami, seorang ayah dari anak-anakku yang agak benar. Bila keadaannya seperti yang kusebutkan paling belakangan ini justru aku merasa seperti tenggelam, atau sedang menghilang lenyap dari permukaan bumi ini. (hlm. 7)

 

Keterasingan dan Pelarian diri dalam “Ngrong”

Kondisi terasing yang dialami oleh tokoh aku—Randu—, sebagaimana narasi di atas, muncul ketika berhadapan dengan gambar diri, penilaian, dan tuntutan yang berasal dari luar dirinya. Di sini, keterasingan tak lain adalah kondisi dimana seseorang tak bisa menentukan hidupnya sendiri, melainkan ditentukan oleh orang lain. Terutama si istri yang kerap mengikatkan penilaian pada benar dan salah. Karena itu, tokoh Randu hanya bertahan. Merasakan keterasingan, baik dalam keadaan seperti batu, layang-layang putus, maupun yang lain.

Keterasingan sebagai tema filsafat eksistensialisme pada narasi di atas juga disebabkan oleh keberadaan manusia dalam keadaan “terpecah” bersama statusnya terkait sebuah keluarga. Terlebih status ayah yang menyiratkan pertalian kuat (hubungan darah) antara dirinya dengan yang lain (anak-anak). Dan sebelum mencapai batas yang paling mematikan bagi eksistensinya, maka tokoh Randu meminggirkan diri ke jalan pelarian.

Ah, benarkah ungkapan di atas menyiratkan pandangan eksistensialisme Sartre, bahwa “neraka adalah orang lain”?! Namun, itulah yang muncul di kepala saya. Terlebih ketika berhadapan dengan narasi berikut:

Aku lepaskan diriku sebagai suami dari istriku, ayah dari anak-anakku, orang lain bagi tetangga-tetanggaku. Dalam keadaan demikian, aku sering dan lebih tenang apabila merasa diriku bagai sebongkah batu. Setidaknya berhati batu, kepala batu,… (hlm. 7)

 

Acuh tak acuh dan sak karepe dewe, barangkali menjadi stereotipe yang dipahami umum, sekaligus menjadi cara pelarian diri sementara—secara internal—dari keadaan yang membuat tokoh Randu terasing. Dengan latar belakang profesi pengarang (sastra), jalan pelarian diri berikutnya yang ditempuh Randu adalah menyuntukkan diri dengan berkarya sastra. Tentunya, karya yang sarat dengan motivasi terkait keberadaannya, sebagaimana diungkapkan berikut ini:

Maka tiada lain jalan selain menjadikan diriku dan diriku yang lain—tepatnya suasana-suasana diriku dan diriku yang lainlah—tokoh dalam adegan-adegan ini sebagai suatu percobaan-percobaan. Percobaan sebagai apa? Percobaan untuk membebaskan diri. Membebaskan diri dari apa? Dari kuasa keadaan. Karena keadaanlah sesungguhnya tokoh utama drama yang kulakoni. Bukan hanya untukku melainkan juga bagi setiap yang dikuasai oleh keadaan…

Ya, aku menyediakan diriku untuk begitu banyak orang lain. Aku menjadi pusat perhatian. Tepatnya aku menjadi pusat perhatian ketika aku menguraikan keadaan-keadaanku akibat kuasa dari keadaan di luar diriku. Demikianlah aku menjadi pusat perhatian juga oleh diriku sendiri, sebagaimana seorang lelaki atau perempuan, seorang atau segerombolan orang yang khusyuk mempelajari diriku, mengukur aku, mendiagnosa, mendekati, membaca, menganalisa, mengevaluasi, mengkritisi, menilai diriku. (hlm. 14-15)

 

Sebagai pelarian lain, Randu berusaha melepaskan diri dari ikatan hukum dan nilai yang pernah ditentukan oleh manusia dan masyarakat. Memuntahkan semua yang terekam dalam dirinya. Hingga benar-benar kosong esensi, dimana

…Yang tersedia cuma keadaan-keadaan, suasana-suasana. (hlm. ix).

 

Ternyata, upaya tersebut agaknya mustahil, seperti diungkapkan berikut ini:

…Entahlah, rasanya belum dan mustahil aku bisa mengeluarkan isi kepalaku, otakku, kesendirianku, kesunyianku. Terlebih lagi, semakin aku kosongkan diriku makin meyakiniku ruang-ruang kosong selanjutnya akan terisi oleh sesuatu yang lain, setidaknya bunyi, gaung, sunyi, dan tentu saja bahasa yang bergema-gema untuk bersuara mengharap makna (hlm. xii-xiii)

 

Yah, inilah ironi manusia. Tak mampu benar-benar lepas dari keberadaan dirinya yang “menyejarah” bersama waktu. Bagi tokoh aku, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kesadaran atas eksistensinya, yaitu pengasingan diri. Atau keluar dari keadaan-keadaan yang menyeretnya pada ikatan esensi yang diberikan oleh orang lain, terutama si istri dan anak-anaknya. Dan tempat itu adalah sebuah kamar indekost di kawasan Gubeng Kertajaya, Surabaya.

 

Romantisme dan Kebebasan dalam “Ngrong”

Keniscayaan hidup bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Pengasingan diri Randu pun tidak benar-benar asing. Bukan saja kenangan lama yang kembali terbuka—di kota yang dulu pernah dia tinggal—, tetapi juga miripnya suasana rumah indekost yang mengingatkannya tentang penyebab dia memilih jalan pengasingan diri, yaitu rumah dengan istri dan anak-anaknya. Pada titik ini, hubungan dan ruang sosial agaknya selalu tidak bisa lepas dari nilai dan identitas yang diberikan orang lain. Randu menyaksikan hal tersebut dalam hubungan Mbak Yanik (ibu indekos) dengan nenek tua (ibu angkatnya), yang penuh dengan suasana adu mulut dan kekacauan.

Terkait keduanya, barangkali bisa dijelaskan bahwa menjadi tua dan tidak berdaya adalah salah satu absurditas yang dihadapi oleh manusia. Terutama bagi seorang renta yang terikat kuat pada kenangan di masa muda. Tidak seperti Randu yang menempuh jalan pengasingan diri, satu-satunya jalan yang tersedia bagi nenek tua itu hanya pada kata-kata yang disampaikan dalam adu mulut. Mungkin semacam pledoi atas ketergantungan hidup, sekaligus menjadi hal yang dimaklumi secara umum terkait hidup seorang yang renta. Atau berupa rentetan nilai atas diri seorang anak terhadap orang tua—yang lebih tua—. Sementara melalui kata-katanya, mbak Yanik berusaha membebaskan diri dari belenggu sebagai anak. Juga dari perasaan malu karena tidak berlaku sesuai pandangan umum mengenai keberadaan yang dipahaminya tersebut.

Pada bagian akhir episode keduanya, dikemukakan sebagai berikut:

…dalam beberapa bulan terakhir ini tampaknya sudah lepas kendali memuntahkan kata-kata pada nenek tua yang kini cuma bisa berbaring di kasur itu. Perempuan tua yang bahkan berak dan pipis pun hanya bisa dilakukannya di kamar itu menjadi sasaran pembebasannya.

…Sempurna sudah adu mulut dan kekacauan antara perempuan tua ibu angkatnya dengan Mbak Yanik itu. Keduanya sudah betul-betul leluasa. Perempuannya anak angkatnya itu telah bisa membebaskan dari belenggunya. Yaitu perasaan malunya terhadap diriku… (hlm. 384)

Hadirnya nilai dan identitas dari luar, juga dialami Randu ketika mendapatkan tawaran kerja sementara pada sebuah LSM dari Bintarti. Perempuan teman lama yang membawanya pada keadaan dan suasana untuk menghadirkan kenangan semasa menjadi mahasiswa di jurusan bahasa dan sastra Universitas Airlangga. Namun kenyataan bahwa Bintarti telah berubah—menjadi atasan di kantor—membuatnya merasa aneh. Kemudian yang dipahaminya adalah:

…Aku memerlukan panggung sandiwara itu untuk sejenak melarikan diri dari dunia nyata.

Kuanggap perjumpaanku kembali dengan Bintarti adalah sandiwara. Karena telah lebih sepuluh tahun lamanya tak berjumpa. Aku harus menempatkannya sebagai perempuan di panggung itu. Sementara aku tetap berdiri di sebuah dunia nyata, milikku sendiri. Lalu aku mengenalinya kembali, menafsirkannya sebagai perempuan yang sama sekali baru dan bukan perempuan sebagaimana dalam kenanganku… (hlm. 88)

 

Yah, keanehan itu adalah kuasa waktu. Terbentang jarak yang cukup lebar antara kenangan dan kenyataan, yang mengantarkan seseorang pada kondisi absurd. Meskipun demikian, satu hal yang agaknya membuat Randu tidak melarikan diri, yaitu baik lingkungan indekos maupun lingkungan kerja, keduanya tidak mengusik kesadaran dengan merampas potensi kebebasan terkait pilihan hidup, juga dalam menentukan nilai-nilai dan identitas dirinya. Termasuk pilihan menjadi orong-orong—yang tentu saja bermakna simbolis—, bersama muatan esensi atas eksistensinya. Muatan esensi yang bebas dari keterpengaruhan yang lain.

Akulah, seekor orong-orong yang benar-benar lebih sial takdirnya ketimbang seekor kecoa bernama Gregor Samsa. Aku tak punya ideologi masa depan. Aku tak cuma terancam sapuan air bah, banjir, longsor, atau serbuan binatang (…) dan manusia yang menganggap diriku hama. Satu-satunya masa depan bagiku adalah kepunahannya, dan masa kiniku adalah makan, makan, makan…

Aku, seekor orong-orong yang bisa merambat dengan cepat, terkadang terbang, bukan berarti aku bisa menaklukkan waktu. Aku, seperti orong-orong lainnya kawin mawin dengan pasangan-pasangannya, lalu berbiak tidaklah bermaksud agar kehidupanku lebih baik kelak dengan menjadi kera, manusia atau malaikat. Justru sebaliknya, oleh karena aku seekor orong-orong ini sadar diri hanyalah persembahan alam semesta.(hlm. 195)

 

Membaca narasi di atas, terutama pada tokoh Gregor Samsa, saya pun teringat pada karya Franz Kafka berjudul Metamorphosis. Juga diingatkan oleh S. Jai melalui novel ini pada bab 15: Saat Terbangun dari Tidur Sudah Mendapati diriku Menjadi Orong-Orong. Tidak pelak, saya pun membandingkan antara “si kecoa” Gregor Samsa dan “si orong-orong” Randu Alam Agung. Berbeda dengan kisah si kecoa yang menggambarkan perjuangan hidup manusia di tengah ketidakberdayaan dan keputusasaan, agaknya si orong-orong mengarah pada perjuangan meraih eksistensi dirinya melalui jalan pengasingan. Atau cenderung pada kondisi kesendirian. Kemudian, jika si kecoa hadir dengan cita-cita moralitas dalam kehidupan yang materialistik, si orong-orong hadir dengan cerita rakyat, yang mengaitkannya dengan Walisongo, yang sarat dengan spiritualitas dan hikmah.

Barangkali, inilah karakter orang Timur—apalagi bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa—, bahwa sebebas apapun seseorang dalam kehidupannya, dia tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat yang sarat dengan muatan spiritualitas, baik yang terlembaga melalui ritual maupun dalam budaya.

Pada episode berikutnya, spiritualitas itu semakin mengental bersama kehadiran tokoh Ratih dalam kehidupan “si orong-orong” Randu. Tidak hanya menghidupkan kembali cinta dan harapan terkait hidup, Ratih juga membuka tabir dan kenangan di masa lalu, yaitu sepasang kekasih.

 

Spiritualitas dan Manusia sebagai Peristiwa

Kebebasan, itulah yang dijalani ketika Randu menjadi orong-orong. Hal yang sama juga ketika dia mencebur (kembali) dalam relasi dan kegiatan seni budaya di Surabaya. Berhenti sejenak di sini, kehadiran novel “Ngrong” ini cukup penting menjadi catatan mengenai proses berkesenian di kota tersebut, baik pengarang sendiri maupun para seniman lainnya—dengan nama tercantum— di bidang sastra, rupa, musik, teater dan sebagainya. Terutama bagi kalangan di luar kota. Dan tentu saja catatan tersebut dari sisi pengalaman S. Jai sendiri.

Kemudian pada suatu malam acara pembacaan puisi di sebuah kafe dekat makam Peneleh dalam rangka peringatan menjelang empatpuluh hari kematian seorang penyair, Randu dan Ratih bertemu secara tak sengaja. Pertemuan dengan latar narasi tentang kematian dan puisi, diungkapkan sebagai berikut:

Kematian kukira tak pernah bisa didekati sungguh atau dijauhi, sekalipun aku bersandar di pagar makam Peneleh. Pun kematian juga tak dapat ditangkap dengan tangan masa lalu atau masa depan. Barangkali memang kuakui dan kurasakan berada di makam Peneleh ini, aku seperti melancongi kematian di masa silam. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar penting bagiku, kini? Bukankah ini sekadar perihal sejarah?

 

Lantas tentang puisi, nyatalah benar aku tersedot energi puisi. Hanya saja aku tak secerdas puisi itu sendiri menyingkap sebagai suatu alasan keberadaan. Aku tak bisa menguraikan, terlebih perihal misteri kerinduanku pada suatu perjumpaan—entah dengan apa dan siapa, yang fatalnya baru terbit sejak kejumudan menguasai diriku belakangan ini. (hlm. 217-218)

 

Kematian dan sejarah yang menyiratkan kenangan yang tak berubah, puisi dan kerinduan yang kental dengan daya spiritualitas, serta dorongan dalam diri yang sulit dijelaskan—semacam keyakinan pada takdir yang kerap terabaikan—, dimana kesemuanya seperti menghadirkan jawaban atas keberadaan. Dan itu adalah Ratih Keswari.

Sejak malam itu, kerinduan yang menggumpal selama duapuluhtiga tahun perlahan mencair. Membasahi dua jiwa yang kering, dimana keduanya terikat dalam ikatan pernikahan tanpa dasar cinta. Bersama Ratih, Randu seperti menemukan cinta sejatinya. Tak lagi melihat dirinya seperti orong-orong, melainkan seekor burung jantan yang terkurung dalam sangkar. Dia gembira karena ada seekor burung betina menclok dan menemaninya.

Mengetahui sepasang burung saling bersahut kicauan di halaman rumah, si istri lantas membuka pintu sangkar. Membebaskan Randu dari ikatan pernikahan dengannya.

Akan tetapi, Ratih bukanlah seekor burung. Dia adalah belantara yang penuh misteri. Dalam lingkaran spiritualitas—majlis dzikir yang diikutinya—Ratih ibarat belantara yang belajar berdamai dengan diri sendiri, untuk menjadi yang semestinya. Belantara yang merindukan kicau burung. Tidak hanya Randu, tapi untuk semua, yang menandakan keberadaannya yang damai.

Yah, inilah gambaran imajiner saya mengenai apa yang terjadi pada Randu dan Ratih setelah pertemuan kembali itu. Gambaran ini sengaja saya kemukakan mengingat sub-bahasan salah satunya mengenai spiritualitas, dimana burung kerap menjadi simbol. Tapi, burung ini bukan burung yang itu. Ups! He7x.

Ah, hanya bercanda. Maklumlah, saya perlu bercanda ketika menuliskan bagian ini. Menyesuaikan dengan muatan psikologis “si burung” Randu yang mlelek, biaya’an, dan pencolat-pencolot ketika bersama Ratih. Keadaan dan suasana seperti ini hanya terjadi ketika bersama Ratih. Selain dari itu adalah kemurungan, ngelangut, ndleming, seperti suasana yang terasa dari bunyi vokal (u) dari panggilan namanya “Randu”. Dari sebuah buku, itu yang pernah saya baca mengenai pembahasan suasana dalam puisi. Maklumlah, banyak juga puisi bertebaran di bagian ini. Kalau tidak percaya, silahkan anda tuntaskan membaca novel ini. Bahkan, Ratih pun adalah puisi. Randu mengungkapkannya dalam dialog, misalnya sebagai berikut:

 

“Karena kau bukan seperti Dewi Mus. Juga bukan Dewi Mus. Kau bukan penyair. Tapi bagiku kau adalah puisi itu sendiri.”

“Sembarang.”

“Hehehe… gampang.” (hlm. 242)

 

“Aku mencintaimu bukan karena sosokmu, Ratih. Aku mencintaimu sebagaimana puisi. Kau adalah puisi. Sebagaimana pada sejarah aku tak menyukai tokoh, namun aku mengagumi peristiwa, keadaan, dan suasananya.” (hlm. 247)

 

“Apa maksudmu karena kita sama-sama telah punya keluarga?”

“Oh, bukan. Itu bukan masalah. Itu takdir yang lain, Randu.”

“Lalu? Apa?” desakku.

“Coba tengok masa lalumu, tak jauh dari hari ini.”

“Oalah. Jangan kau permalukan aku, ah. Ini artinya aku berubah karena telah tumbuh benih baru dalam perjalanan hidupku, karena menemukanmu, Ratih.”

“Masak? Apa sebetulnya ini bukan karena kita telah menemukan diri sendiri?”

“Hmmm… Sembaranglah. Suka-suka.”

“Oh iya, aku lupa. Bilang saja kamu telah menemukan puisi!”

(hlm. 256-267)

 

Ratih adalah puisi. Randu tersedot energi Ratih, yang saat itu berada dalam lingkaran spiritualitas. Dan ungkapan ‘Apa sebetulnya ini bukan karena kita telah menemukan diri sendiri?” mengingatkan kita pada sebuah hadits yang masyhur dalam dunia tasawuf, ‘man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu’—barangsiapa mengenal dirinya, maka dia (bisa) mengenal Tuhannya—.

Pada episode kebersamaan Randu dan Ratih berikutnya, terutama setelah saling bertukar cerita, narasi tentang dunia tasawuf kemudian mengalir dalam novel ini. Kisah para nabi, para wali, dan para sufi diungkapkan, baik dalam bentuk cerita rakyat (wali di Jawa-Madura) maupun tentang pencarian menuju Dzat wajibul wujud. Beberapa tokoh sufi periode klasik, misalnya Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah, Al-Ghazali, hadir dalam narasinya.

Semua itu merupakan inisiatif Ratih. Dia melihat bahwa keterasingan dan kondisi kering spiritual yang dialami oleh Randu, disebabkan oleh pemahaman agama yang tidak seimbang antara yang lahir dengan yang batin. Hal ini disebabkan sejak kecil selalu dikenalkan dengan visi agama yang hitam-putih. Antara dosa dan pahala. Surga dan neraka. Sebagaimana kecenderungan dalam masyarakat. Dan kini, apa yang diupayakan itu telah berproses. Randu mulai mendekat pada spiritualitas. Juga hikmah.

Itulah yang diharapkan oleh Ratih setelah pertemuan kembali itu. Bukan menjadi kekasih yang diikat dalam pernikahan, sebagaimana harapan Randu. Karena kehadiran Ratih hanya untuk menjelaskan cintanya, yang membuatnya sulit berdamai dengan diri sendiri. Dia tak ingin menjadi apa-apa dalam hidup Randu. Hanya semacam puisi.

Usai semua yang terjadi, termasuk lepasnya hubungan dengan yang lain, Randu pun merasa bebas. Merdeka bersama cintanya. Dia tak peduli dengan nilai dan identitas yang diberikan orang lain. Tak akan mencari lagi memaknai keberadaannya. Hal tersebut diungkapkan pada bagian akhir (epilog) novel ini, yaitu:

Setelah hampir 10 tahun, aku memutuskan keluar dari rong. Aku pindah dari rumah indekos tempatku selama itu menepi dan menyepi. Aku belum berpikir hendak menuju ke mana. Namun aku tidak pernah takut menjadi gelandangan, bahkan dengan mbambung menjadi gedibal. Terlebih Ratih telah menyediakan segenap dirinya rumah bagiku. Ketika meninggalkan gang dan tempat persembunyianku selama ini, aku tak lagi sepenuhnya merasa diri selaku sosok manusia. Mungkin semacam lelaki. Barangkali semacam puisi yang berdiri di tepi gang. Bukan milikku, tapi milik Ratih. Kami boleh jadi telah lebur… (hlm. 387)

 

Randu telah lebur. Begitu juga Ratih. Bukan lagi sebagai eksistensi. Bukan lagi keadaan-keadaan atau suasana-suasana. Tapi ketahuilah, sebelum manusia terlibat dalam ilmu pengetahuan, filsafat, cipta puisi dan sebagainya, mereka lebih dulu curiga, yakni peristiwa. Kauniyah.

 

“Ngrong” dan Referensi (Karya) Sastra

Secara umum, novel ini menghadirkan manusia dalam upaya perjuangan meraih dan memaknai eksistensi dirinya. Kondisi kering spiritual dan aburditas hidup menjadi buhul dari keterasingan yang dialaminya. Pelarian diri adalah cara termudah, hingga memilih orong-orong sebagai esensi dari keberadaannya, sekaligus jalan pengasingan. Bersama kebebasan orong-orong, dia siap menyongsong masa depannya, yang tak lain adalah kepunahan. Akan tetapi, kehadiran seseorang menghidupkan kenangan dan benih cinta pada dirinya. Benih cinta yang belum sempat terjelaskan di masa lalu. Cinta yang menariknya pada energi puisi dan spiritualitas.

Kehadiran novel ini agaknya dimaksudkan S. Jai sebagai kritik terhadap filsafat eksistensialisme dan absurdisme, yang barangkali dilihatnya sebagai pemikiran yang belum selesai. Melalui tokoh Randu, dia seperti menunjukkan kepada kita bahwa fase terakhir dari perjalanan kesadaran manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhammad Iqbal, yaitu mistik, ketika sumber-sumber terakhir dari hukum di kedalaman hati nuraninya “menggerakkan” pendewasaan manusia.

Hal lain yang menarik dalam novel ini adalah diungkapkannya karya-karya sastra lain dengan muatan tema yang katakanlah serumpun, yakni perjuangan hidup manusia. Keterasingan, kebebasan, dan sebagainya. Di antaranya adalah novel/ roman Belenggu karya Armijn Pane, Metamorphosis karya Franz Kafka, Arus Balik karya Pramudya Ananta Toer, Kitab Lupa dan Gelak Tawa karya Milan Kundera. Khotbah di Atas Bukit karya Koentowijoyo, dan banyak lagi. Selain bisa menjadi referensi (bagi pembaca), agaknya beberapa karya tersebut dimaksudkan oleh S. Jai semacam tinjauan pustaka, atau penelitian-penelitian terdahulu, sebagaimana karya ilmiah, semisal skripsi, tesis, atau disertasi. Saya menduga, hal tersebut dilakukan agar pembaca bisa tahu di mana posisi novel “Ngrong” di antara novel-novel tersebut.

Lepas dari keberadaannya sebagai karya utuh, inilah catatan pembacaan saya. Dan sebelum perbedaan pendapat mengenai novel ini terjadi di antara pembaca—termasuk saya—, baiknya hal tersebut didahului dengan membaca novel ini hingga tuntas. Mumpung masih hangat. Setelah itu kita bisa saling bersetuju. Bisa sependapat dengan catatan ini. Bahkan, bisa berbeda pendapat. Tidak masalah. Karena berbeda, bukan suatu dosa. Bahkan, perbedaan adalah rahmat. Tidak lain, agar di antara kita tumbuh semacam kasih sayang. Bukan begitu, puan dan tuan?! [*]