000000000 Maklumat Sastra Postmitos | Pagan Press

Seni Instalasi Karya Robert Rauschenberg. Sumber: https://www.lacma.org/art/exhibition/rauschenberg-14-mile

S. Jai

SEBENARNYA saya cukup kikuk berbicara dengan tagline Orasi Budaya,  karena semestinya ini wilayah para orator, peneliti, pemikir, kritikus—mereka yang fasih membicarakan aktualitas (sesuatu yang benar terjadi). Sementara saya lebih banyak berjibaku selaku pengarang—kerap bergulat, bergelut dengan realitas (hal yang bisa terjadi/tidak terjadi).

Ketika menulis kritik pun, saya pilih berkendara esai-esai yang tidak memerlukan simpulan-simpulan, pendapat, opini, sikap atau solusi-solusi yang kokoh, keras dan tegas.  Sebagai pengarang saya lebih percaya apa kata Jorge Luis Borges; ‘yang menyalin kebingungannya sendiri dan memindahkan sistem kebingungan yang dengan hormat kita sebut filsafat itu ke dalam bentuk sastra.’ Sementara dengan berkendara esai, sebagaimana dikatakan Ignas Kleden, kekuatannya ‘bukan terletak pada argumen yang dikandungnya, melainkan pada lukisan pikiran-pikiran dan gagasan.’

Sastra adalah dunia yang sepi, sunyi, yang dalam takdir kesepiannya senantiasa mencoba bersuara, berbunyi, bernyanyi bahkan berteriak entah sebagai “hiburan,” atas nama keadilan, ataukah demi kemanusiaan.  Oleh karena itu, penting pada kesempatan ini, saya ucapkan terimakasih pada institusi Balai Bahasa Jawa Timur yang telah memberikan perhatian pada sastra.

Anugerah Sotasoma adalah support dunia sepi itu. Dalam pandangan saya adalah bentuk lain dari kritik pada sastra, karena di situ ada penilaian, apresiasi, perbincangan dan penghargaan. Selamat bagi para penerima Anugerah Sotasoma, tahun ini.

HARUKI MURAKAMI DAN MILAN KUNDERA

Saya senang sekali mengutip kalimat dua sastrawan besar dunia. Pertama, Haruki Murakami, kedua Milan Kundera  “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna,” kata Murakami.  Rupanya Murakami hendak menegaskan; realitas harus terus dibahasakan, dituliskan (dituturkan) sekalipun tak pernah sempurna. Karena disitulah takdir dan ikhtiar manusia baik dalam pengertian aktualitas maupun realitasnya. Dengan kata lain, manusia harus terus berikhtiar menciptakan realitas dengan bahasa-bahasa, sekalipun, mustahil bisa menangkap realitas sebenarnya akibat ketergantungannya pada bahasa-bahasa yang tercipta.

Kalimat Kundera yang senang saya kutip; “Manusia berpikir, Tuhan tertawa.” Konon kalimat itu dinukil dari  pepatah Yahudi. Artinya, ketika manusia makin keras berpikir justru kian menjauh dari kebenaran.  Sebab itu saya senantiasa memberi tanda petik tiap kali membincang hiburan dalam sastra. Bahwa spirit sastra itu ambiguitas dan kompleksitas. Bahwa musuh utama sastra adalah agelaste—orang yang tidak pernah tertawa, alias kebenaran tunggal. Bahwa sastra adalah karnaval keragaman suara; permainan yang ramai antar pelbagai bahasa, pelbagai wacana, yang mempersoalkan realitas, memparodikan, menggugat, dan bahkan bermain-main terhadapnya. Sastra adalah medium yang paling tepat menyingkap denyut, gerak tubuh, kerinduan pada kemungkinan, kejutan, ketakterdugaan: warna hidup yang tidak menuju pada suatu tujuan tertentu—sebagaimana tujuan semua kitab suci.

REALITAS DAN BAHASA

Menciptakan realitas dengan bahasa bukanlah monopoli  penyair, pengarang, pendongeng, seniman, melainkan tugas semua khalifah di bumi.  Simpul antara tugas semua khalifah dan bahasa ini, adalah apa yang dikatakan filosof Muhammad Iqbal bahwa; sumber satu-satunya pengetahuan adalah pengalaman batin. Baru kemudian dua sumber pengetahuan lainnya adalah alam dan sejarah. Maka jelas, sastra adalah nenek moyang segala pengetahuan. Sastra adalah pengetahuan paling tua. Setua manusia dan bahasa itu sendiri.

SEJARAH BAHASA

Pengalaman batin, alam dan sejarah tempat bahasa tumbuh dan hidup. Mari kita tengok sejarah bahasa kita.

Abad ke-7 ketika Jawa Kuna sebagai bahasa lingua franca—diciptakan bukan oleh pujangga, melainkan oleh denyut hidup, gerak dan barangkali pergolakan masyarakat pada masanya.

Abad ke-11 atau ke-13  bahasa Melayu terlibat dalam gerak dan denyut sejarah pergaulan masyarakat bahasa. Kurang lebih seabad kemudian mulai dikenal huruf Arab Pegon dengan tarikh Islam dan mulailah muncul kesadaran sastra di seantero Nusantara—sastra Aceh, Jawa (Kakawin) Sunda, Bali (Kidung), Bugis (La Galigo yang masyhur itu), Batak, Minang.

Abad ke-17 sastra Melayu dari Aceh mulai dikenal luas. Hamzah Fanzuri dengan Syair Perahu, Syair Burung Pungguk dan lainnya adalah pencipta genre syair dan disebut-sebut sebagai pionir syair Indonesia.

Abad ke-18 genre prosa (hikayat-hikayat) mulai dikenal melalui karya-karya Abdulllah bin Abdul Kadir Munsyi—seorang guru bahasa Melayu, penyusun Sejarah Melayu dan penerjemah kitab injil.

Abad ke- 19, Raja Ali Haji—penyusun Sejarah Melayu, peletak tata bahasa Kitab Pengetahuan Bahasa, atau Kamus Lhogat Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga dikenal dengan Gurindam Duabelas.

Kita patut berterimakasih pada Belanda yang pada abad ke-18 mengirimkan seorang bernama Melchior Leijdecker menata bahasa melayu. Seorang yang pertama kali mengajar huruf latin dalam pengajaran bahasa Melayu. Seorang yang ditugaskan oleh VOC menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Melayu. Dialah pencipta kata Tuhan yang berakar dari kata Tuan itu.  Dialah yang berjasa atas terselenggaranya bahasa kita dalam huruf latin.

Sekitar pertengahan abad ke-19, Belanda juga mengirimkan H.C. Klinkert, yang kemudian bekerja keras belajar dan menguasai bahasa Melayu dan huruf Arab Pegon, menerjemahkan Alkitab dengan huruf Arab Pegon, dan turut mendirikan Slompret Melajoe, surat kabar mingguan berbahasa Melayu yang pertama terbit di Semarang, 1860.

Kita lihat, bahasa pasar juga yang digunakan para pesastra peranakan Cina dan peranakan Indo-Eropa di pertengahan dan akhir abad ke-19, yang umumnya mereka menulis novel: Bintang Toedjoeh (Lie Kim Hok), Nyai Dasima (G. Francis) Cerita Siti Aisyah (H.F.R Kommer), Hikayat Siti Mariah (Hadji Moekti).

Lalu ikhtiar Chairil Anwar, Idrus, Pramoedya Ananta Toer dan kawanannya di Kritiek en Opbouw, Gema Suasana, Orientatie kendati pada satu sisi bersiteguh pada ‘tanggungjawab penuh integritas seniman/intelektual secara individual’ pada sisi lain bersikeras ‘sebagai usaha memperjuangkan kebebasan dari penjajahan.’

Saya ingin katakan, betapa bahasa adalah denyut jantung, gerak, medan perjuangan, pertaruhan, pertarungan masyarakat justru dalam perannya sebagai apa yang disebut Ferdinand Saussure bertabiat arbitrary—sewenang wenang, bergantung pada konvensi sosialnya itu. Sementara pihak, juga dikatakannya, ‘dalam bahasa hanya ada perbedaan-perbedaan dimana identitas kata dibentuk oleh dari melakukan perbedaan-perbedaan di dalamnya.’

KOELI DAN MAX HAVELAR

Perbedaan adalah fitrah sebagaimana fitrah sastra bagi manusia. Sementara “pembedaan” adalah pengalaman dan kenyataan sejarah. Mengingatkan saya pada sejumlah penulis berkebangsaan Belanda:  Szekely-Lulofs, Multatuli, AM Courier Dit Dubekart.

Szekely-Lulofs, perempuan cantik kelahiran Surabaya. Istri seorang Tuan Kebun. Sejumlah karyanya berlatar kehidupan buruh-buruh perkebunan.  Koeli, Berpacu Nasib di Kebun Karet. Mengerikan sekali. Ada perbudakan terjadi Deli. Mengejutkan pemerintah.

Multatuli  dengan karya yang termashur Max Havelaar. Dia seorang penjudi di negerinya sendiri namun seorang yang tak sampai hati melihat pemerasan terjadi di Rangkasbitung oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta paksa  hasil bumi dan ternak kepada rakyatnya. Sekuelnya Saijah dan Adinda sangat memilukan. Saijah terbunuh dengan saputangan terbenam di nganga luka bayonet marsose.

AM Courier Dit Dubekart,  seorang pegawai berkebangsaan Belanda yang kaya, dan uniknya, memilih menjadi seorang Jawa, dan hidup di pedesaan sekitar Blitar dan Kediri—bersama orang-orang desa pada umumnya. Dia mendidik sendiri anak-anaknya membaca dan menulis sambil menggembalakan lembu-lembu. Dubekart rajin menulis di Koran. Tulisan-tulisannya yang mencapai 100 tulisan di Soerabaia Courant di pertengahan abad ke-19 menjadi referensi penting Multatuli kelak di kemudian hari. Tentang pemerasan para pejabat Kolonial.

Karya-karya mereka adalah contoh, bahwa sekalipun sastra ditepikan, disepikan, disunyikan, dalam kesepiannya pun akhirnya terdengar bunyinya, suaranya, teriakannya bahkan dari dalam tempat paling dekat dengan dirinya—kekuasaan yang digugat oleh bangsa penguasa. Di situlah sastra sebagai pengetahuan bersumber satu-satunya dari pengalaman batin manusia.

Karya-karya mereka adalah suara dari suatu bangsa yang ditinggal jauh oleh zaman. Masyarakat tidak dijunjung tinggi harkatnya atas pendidikan dan masalah-masalah humaniora. Barangkali saat itulah pengalaman pertama sebagai bangsa terjadinya kejutan-kejutan budaya, dan kehilangan-kehilangan bahkan kematian-kematian orientasi hidup, dan tak pernah benar-benar ditemukannya kembali. Bayangkan, sebuah tata kelola pemerintahan yang dijalankan oleh Kumpeni alias Kongsi Dagang.

Rendra menyebutnya era itu sebagai “Pendidikan menara gading. Tidak ada dialog yang tuntas dengan ilmu pengetahuan modern.” Memang ada lembaga pendidikan tinggi, namun demikian tidak ada riset fakta apa yang benar-benar terjadi dan dibutuhkan masyarakat. Era yang membutakan keingintahuan akan sejarah guna membangun kesadaran baru.

Saya ingin tegaskan, bahwa jika tidak ada kesiapan menghadapi kenyataan sejarah dunia dalam institusi-institusi, tradisi demi tradisi, emansipasi-demi emansipasi serta revolusi demi revolusi, maka, pewarisannya abadi dan hanya berganti paras—pembangunan, korupsi, korporasi global, primordialisme, oportunisme.

Mitos-mitos menumpuk dan menimbun kita, sementara institusi-institusi yang menopang usaha mendekonstruksi, mengkonstruksi, menganalisa, menyambung seluruh data, fakta, dan narasi berbangsa secara sehat produktif, kreatif, kritis—kosong.

SPIRIT SASTRA DAN GERAK SEJARAH

Barangkali sastra sebagai pengalaman batin tidak atau belum bergerak baik dalam spirit, fungsi, visi maupun subtansinya. Namun alam dan sejarah  terus berubah.

Jika spirit sastra dari zaman ke zaman adalah membongkar tabu, membongkar mitos, dan apabila mitos adalah ‘sistem penandaan yang melibatkan ideologi di dalamnya,’ ‘sistem komunikasi dan wacana yang di dalamnya terdapat pesan,’ dan ‘semua hal bisa menjadi mitos,’ maka sastra sebaiknya menjauhi pesan (dan pesanan). Karena sastra pun berpeluang bebas untuk kemudian menjadikan dirinya mitos pula.

Saya sendiri berpandangan, jarak antara mendekonstruksi dan mengkonstruksi kembali mitos-mitos dalam sastra sebagai pengalaman batin, itu dijaga oleh semacam profesi, karakter pesastra dengan visinya sebagaimana definisi Ibnu Chaldun “Jiwa menatap kilatan dari berbagai citra realitas. Melalui tatapan itu jiwa mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal mendatang yang ia rindukan.”

Dengan kata lain, bila spirit sastra tidak berubah, lalu konteks alam dan sejarah pun belum berganti, maka artinya, tantangan sastra sejak revolusi teknologi dari zaman mesin uap, listrik, komputeriasi hingga digital-milenial, tidaklah sama sekali baru. Bahkan masih yang itu-itu juga.

(Seno Gumira malah menengarai sastra kita masih sibuk pada romantik, estetik, keindahan, baik-buruk, sastra atau bukan, dan hal-hal elementer lainnya)

Sastra sekadar butuh karakter profesional dengan etika pengabdi humanisme yang anti klise, anti jargon, dan selalu sanggup masuk pada (ruang kosong) emansipasi.

KRITIK DAN REFLEKSI DIRI

Apa yang dikatakan Kundera “Manusia berpikir, Tuhan tertawa,” menjadi semacam ironi bagi pemujaan pada rasio, Juga sinisme terhadap revolusi teknologi-industri segala zaman.  Bagi pemikir  Habermas sebagai suatu kritik (atas ideologi) melalui apa yang disebut emansipasi. Bahwa emansipasi bukan saja atas perbudakan, kolonialisme, kekuasaan, tapi juga  “ruang kosong” atau “ketidaktahuan” dari pengetahuan rasio yang telah dipraktikkan ilmu pengetahuan selama ratusan tahun.

Habermas terang-terangan menolak pengasingan rasio dari kehidupan dan ia mempertimbangkan refleksi agama, moral, dan budaya, termasuk sastra. Yaitu pengabdian pada humanisme-kemanusiaan,  mengandung pengertian refleksi diri, memahami posisi diri, menyadari kepentingan untuk membebaskan diri dari kungkungan ideologi, memiliki kemampuan untuk mencapai otonomi, dan tanggung jawab. Yakni, individu dalam apa yang disebut masyarakat komunikatif. Yaitu masyarakat yang melakukan kritik bukan melalui revolusi atau kekerasan, tetapi melalui argumentasi.  Perbincangan dan kritik.

Dalam pandangan (dan pengalaman) saya, masyarakat komunikatif cukup efektif diterapkan dalam suatu pemberdayaan masyarakat yang berfungsi mendidik, yakni ketika proses pendidikan berjalan bagi seluruh anggota masyarakat melalui interaksi keseharian. Kerap disebut masyarakat pembelajar yaitu, masyarakat yang memiliki semangat, kesadaran dan tradisi untuk terus mencari, menemukan dan menciptakan pengetahuan. Dua kata kuncinya, pertama, sifatnya horisontal, inklusif, partisipatif.  Kedua, dibangun di atas landasan komunikasi yang baik dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi etika perlakuan terhadap sesama, komitmen terhadap nilai-nilai (idealisme), kepekaan terhadap kebutuhan orang lain (empati), mengembangkan potensi kemanusiaan, sabar, tekun.

BAHASA, SASTRA, MASYARAKAT KOMUNIKATIF

Mari kita lihat kaitan bahasa, sastra,  masyarakat komunikatif dengan suatu era revolusi—yang kita sebut milenial-digital ini. Sastra menjadi lebih efektif, ketika sebagai pengalaman batin, semua orang bisa bersastra, semua orang bisa terlibat dalam revolusi ini dan narasi-narasi sastra bisa begitu leluasa ambil bagian. Pertanyaannya adalah;

  1. Sudahkah etika masyarakat komunikatif dalam lapangan sastra bekerja secara ideal, sehat, kritis, kreatif sehingga mengukuhkan karakter-karakter profesional di dalamnya pada apa yang kini kerap disebut orang; seniman, sastrawan, pensyair (?), budayawan?
  2. Sudahkah ruang maya, internet, digital, benar-benar dijadikan ruang diskusi sebagai learning society—untuk mewujudkan tumbuh kembang sastra yang lebih berkualitas?
  3. Media sosial, sudahkah menjadi ruang publik yang tidak terikat dengan kepentingan pasar maupun politik, berfungsi baik—tempat diskusi dan argumentasi, sebagaimana ruang perbincangan dan kritik?
  4. Ketika momentum era baru milenium ini, butuh warga bangsa yang sehat, generasi yang genuine, kritis, produktif dengan bekal pengetahuan kebangsaaan yang lengkap, sudahkah sastra aktif ambil bagian dalam meruntuhkan jargon-jargon klise yang bertebaran, mitos-mitos yang bagaikan tembok besar di hadapan kita?

PENGALAMAN ORDE BARU

Kita punya pengalaman Orde Baru, ketika narasi-narasi dikuasai negara, ketika institusi data dan fakta dikuasai oleh pemerintah dan seluruh narasi menjadi seragam dan tunggal. Masyarakat tidak bebas menarasikan dirinya sendiri, dan tak punya penangkal membanjirnya isme-isme dan masuknya kebudayaan asing. Mengapa? Karena tak ada karakter utama, etika-etika profesi dibenamkan atas nama stabilitas. Akibatnya, nilai-nilai publik tak punya daya tawar. Yang ada hanyalah eforia-eforia.

Tak terkecuali di lapangan sastra. Pencapaian-pencapaian sastra hilang begitu saja. Pencapaian karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, yang sepertinya sahut menyahut itu; terhenti. Goenawan Mohamad, Umar Kayam,Taufiq Ismail.  Siapa yang bisa menjamin mereka bersih dari politik sastra?  Pencapaian budaya popular pun  yang sudah bagus tenggelam pula; Majalah AktuilBadai Pasti Berlalu (novel,musik,film), Puisi Mbeling, Cintaku di Kampus Biru. Sebuah pencapaian yang berujung krisis. Setiap pencapaian, pada saat terjadi perubahan, cepat sekali krisis dan terjadi kematian-kematian yang cepat pula kita lupakan. Sejarah kemudian mengulang-ulang kembali dengan kelupaan-kelupaan.

Saya teringat dengan pencapaian Danarto, yang kemudian tertimbun oleh booming sastra Amerika Latin di sini.  Kita jadi sedikit tahu kenapa bisa demikian. Karena kita diwarisi kematian-kematian karakter bangsa, budaya baca sejarah yang rendah, eforia, dan yang jelas karena tak punya strategi bersastra—cara cara berpikir, bertindak dan bereaksi dalam dunia baru. Ketergantungan kita tinggi setiap kali ada perubahan sejak industri mesin uap, listrik, robotik dan kini internet.

KEBUDAYAAN, MITOS DAN KEGIATAN SASTRA

Sebaiknya kita ingat, jika budaya itu sistem simbol dari berbagai sistem tanda, padahal penanda bersifat arbriter, maka kebudayaan sebagai konvensi sosial menjadi mitos, menjadi arena pertarungan kuasa ideologi.  Di lapangan sastra, jelas masa depan sastra ada di generasi sekarang dan yang akan datang. Namun bagaimana bila mereka kini di tengah kultur penggemar, kebudayaan tanpa etika, di semarak media sosial yang cenderung menolak diskusi tapi meneguhkan chauvinisme, narsisisme, primordialisme dan bahkan fasisme?

Dalam keadaan demikian, terus terang saya angkat topi terhadap apa yang dilakukan kawan-kawan di sejumlah daerah; Ruang Sastra Gresik, Kelas Sastra di Surabaya, Candra Kirana Lamongan, Purnama Sastra Bojonegoro, Pelangi Sastra Malang, Madura dan daerah lain yang menciptakan ruang perbincangan, diskusi, kritik, yang memungkinkan pula penciptaan-penciptaan ruang publik sastra. Suatu ruang guna meneguhkan diri, mengenali ruang-ruang psikis, menggali eksistensi diri. Ini bukanlah bentuk narsisme, melainkan kesadaran untuk membuka ruang psikis, menumbuhkan sikap emansipasi.  Dan kita tidak perlu alergi pada kata-kata ideologis oleh karena sejak belum lahir pun kita telah berbaju ideologi. Manusia telah dan akan terus terbenam dalam ideologi, sejak sebelum jadi bayi hingga mati

PENUTUP

Dalam perjalanan sastra Jawa Timur, saya pribadi mengagumi pencapaian Mardiluhung, F Aziz Manna, Mashdar Zainal, Mashuri, Zoya Herawati, Muna Masyari, Nanda Alifya Rahmah—menyebut sedikit orang yang menjadi oasis dari suatu padang sastra yang sumuk kekeringan, terlebih akibat badai dari sastra satu alenia di facebook, twitter dan media sosial lainnya, yang tidak mampu dengan serius melakukan pendobrakan-pendobrakan atas warisan yang tadi saya sebutkan.

Jadi  oasis sastra kita ke depan bergantung pada daya dobrak atas jargon-jargon, tabu, dan mitos-mitos kebudayaan kita di masa silam, di waktu kini, dan yang akan datang. Dan yang utama bagi para pesastra, adalah masalah etika yakni tanggungjawab intelektual yang terintegrasi dengan pengalaman-pengalaman baru yang paling dekat dengan dirinya dan refleksi diri, bahwa moralitasnya berhadapan dengan kebebasan orang lain,ketakutannya, keterbatasannya.

Saya teringat pada tema “Redefinisi  Identitas  Jawa  Timur,” yang digelar Dewan Kesenian Jatim 2017. Saya kira cukup menarik karena didasari pikiran sastra sebagai medium pembentuk identitas. Jelas, visinya terkait dengan perkembangan dan perubahan­perubahan di Jawa Timur. Bahwa sastra dipandang  sebagai  kritik  terhadap  persoalan  kemanusiaan,  lingkungan, politik,  dan  berbagai isu lainnya.

Pertanyaan adalah dalam konteks Jawa Timur, adakah hal ini terhubung dengan karakter masyarakat Jawa Timur telah jamak kita tahu ada Mataraman, Arek, Madura Pulau, Madura Bawean, Madura Kangean, Pandalungan, Panoragan, Osing, Tengger, Samin?  Mungkin ada gunanya merasa diri berkarakter khas—punya  semangat juang tinggi, terbuka, mudah beradaptasi, nekat (bonek), agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif—tetapi mungkin juga tidak berguna, bila tak memiliki kesadaran pendobrak.[]

Ngimbang, 2019