Tentang Kami

Visi & Misi

Pagan Press

Kukuh, Hanya Menerbitkan Pengetahuan Masa Depan

Judul Anda Pergi ke Sini

Your content goes here. Edit or remove this text inline or in the module Content settings. You can also style every aspect of this content in the module Design settings and even apply custom CSS to this text in the module Advanced settings.

Visi:  

Mengembangkan pengetahuan dan pemberdayaan kemanusiaan sebagai suatu mata air kebudayaan secara utuh dalam bentuk pencerahan serta wawasan masa depan melalui tradisi keilmuan.

Misi:

1. Memajukan pengembangan pengetahuan dan kebudayaan seluas-luasnya atas dasar pemahaman keilmuan beserta bentuk-bentuk aktivitasnya.

2. Meluaskan gagasan keilmuan khususnya  karya-karya non mainstream melalui penerbitan buku dan media alternatif lainnya.

3. Memberi kesempatan para penulis pemula dalam mengasah kreativitasnya dalam memberdayakan diri ambil bagian dalam gerakan kebudayaan.

4. Melibatkan secara aktif warga bangsa untuk berpartisipasi dalam tradisi keilmuan baik melalui diskusi-diskusi, penerbitan buku maupun aktivitas keilmuan lainnya.

BUKAN KUTUKAN HUJAN

Buku Kumpulan Cerpen Karya M. Anshor Sja’roni ini adalah buku terbitan pertama dari kami (November 2014), dan dicetak hanya dalam ratusan eksemplar saja.

SEJUMLAH cerpennya bagaikan dilisankan—dituturkan yang seringkali dalam tradisi sastra kita dalam babat, dongeng, hikayat, atau cerita rakyat disarati dengan pesan moral. Sebagaimana laiknya pesan moral senantiasa dilayangkan untuk mengangkat derajat ‘moral’ masyarakatnya. Penulis ini sangat piawai sebagai juru cerita menyampaikan petuah-petuah justru dalam  persimpangan bahkan paradok antara yang tutur dan yang sastra modern—dunia cerpen. Derajat seperti ini hanyalah bisa dilakukan oleh juru cerita yang memiliki energi proses kreatifnya cukup matang. 

Andaikan seorang dalang, modernitas M Anshor Sja’roni pada begitu banyaknya carangan-carangan yang dikisahkan, namun wayang sebagai cermin hidup tetap kaya ajaran. Paradok itu termasuk di dalamnya, penulis sebagai ‘pusat kekuasaan’ (satu bentuk kekuasaan tertentu—istilah Ben Anderson) di satu sisi, sementara di sisi lain, pembaca cerita adalah pengarang sebenarnya yang butuh energi kreatif tak kalah lebih besar daripada penulis sebagai juru cerita.  Kepiawaian M Anshor Sja’roni adalah kekuasaan dalam membangun ‘komunitas-komunitas yang dibayangkan.

Kepiawaian sang juru cerita juga dalam hal di satu sisi memitoskan pesan atau mengukuhkan mitos-mitos pesan—katakanlah  ideologi agama tertentu misalnya—akan  tetapi di sisi lain ia membuka ruang-ruang munculnya gugatan, pertanyaan atau bahkan mematahkannya dengan ruang kosong baru tempat tafsir bisa meluas berkembang. (S. Jai)

KUMARA, HIKAYAT SANG KEKASIH

Novel ini  adalah pemenang sayembara novel etnografis Dewan Kesenian Jawa Timur 2012. Sempat diterbitkan terbatas oleh Dewan Kesenian Jawa Timur  kerjasama Satu Kata,  Desember 2013. Pagan Press menerbitkannya ulang.

SAYA perlu sampaikan spirit penulisan novel ini, bahwa semula saya menulis buku ini saya maksudkan sebagai biografi atau semi otobiografi karena ada sebagian dari diri saya yang tampil di sini. Semula saya ingin menyusun semacam dokumentasi sejarah mental masyarakat kecil di kampung halaman saya (di sekitar Pabrik Gula Ngadirejo, Kediri) era 60-70an. 

Akan tetapi, tanggungjawab saya sebagai pengarang, membuat saya tergoda pada masalah moralitas dan estetika sastra. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau setidaknya kesangsian, seputar pasang surut hubungan abangan, santri dan priyayi pada era 1960-1970an. Peneliti Clifford Geertz, sudah melakukan hal itu, walau kemudian menuai banyak kritik, termasuk oleh Umar Kayam yang mengkritiknya melalui novel Para Priyayi terbit pada tahun 90-an.  Saya sendiri tidak menemukan sastra yang berlatar 60-an dan ditulis dari prespektif kultur Jawa rendahan, kecuali Sri Sumarah-nya Umar Kayam. Sastra-sastra lainnya lebih banyak tampil dari sudut pandang priyayi dan kaum terpelajar.  Bahkan novel yang paling mutakhir; Amba, karangan Laksmi Pamuntjak, pun demikian.

Bagi para pembaca kritis, tak terkecuali terhadap karya Sri Sumarah, sastra-sastra itu dianggap produk budaya orde baru yang mengabdi dan mengekplorasi atas nama kemanusiaan—bahkan boleh dikata secara berlebihan dan menjadikannya sebagai semacam ideologi dalam sastra.  Sementara, yang saya lakukan dalam novel KumaraHikayat Sang Kekasih ini, saya hanya bercerita. Jikapun kemudian hadir rasa kemanusiaan, hal itu oleh karena hadir dengan sendirinya tanpa saya undang dengan sengaja. Saya hanya bercerita  tanpa saya aduk dengan pengetahuan saya perihal kemanusiaan… (S. Jai)

DUNIAKU DALAM 350 KATA

Kumpulan Esai karya Laili Rusmawaty ini boleh dikata produk terkini dari kami.  Buku terbaru dengan tampilan dan desain paling mutakhir.

_______________

JIKA kita percaya pepatah lama ‘buku adalah jendela dunia,’ maka setiap yang sudah ada dalam dunia ini tak ada salah-nya memulai untuk menyakini bahwa ‘bahasa adalah pintu suatu kebudayaan.’

Melihat sejarah bahasa (dan sastra, juga kebudayaan) kita yang cukup panjang, maka tak ada alasan untuk tidak mencintai bahasa. Bahkan kita telah tahu; bukan hanya ‘kita’ yang turut andil besar dalam pembentukan bahasa. Tak cuma masyarakat pengguna Jawa Kuna, bangsa Melayu, lalu para ahli bahasa dan sejarah seperti Hamzah Fansuri,  Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji saja, tapi juga arsitek bahasa dari asing; seperti Melchior Leijdecker, H.C. Klinkert, selain peran para sastrawan peranakan baik Cina maupun Eropa yang tak boleh kita lupakan.

Singkat kata,  betapa bahasa adalah denyut jantung, gerak, medan perjuangan, pertaruhan, pertarungan masyarakat. Bahasalah yang terlibat begitu aktif dan masif atas bagaimana seseorang, individu maupun masyarakat hidup bersama, memandang, menangkap dan membicarakan kenyataan. Rasanya bagi setiap yang dalam keseharian bergulat dengan bahasa, tidaklah cukup sekadar menyakini bahasa adalah pintu suatu kebudayaan. Dengan kata lain; bahasa adalah kebudayaan itu sendiri yang di dalamnya termaktub kesepakatan-kesepakatan, ketegangan-ketegangan, bahkan kesewenang-wenangan.

Maka mencintai bahasa mengandung pengertian mencintai keutuhan budayanya. Utamanya perihal perbedaan. Ini mengingatkan saya pada ungkapan Saussure  ‘dalam bahasa hanya ada perbedaan-perbedaan dimana identitas kata dibentuk oleh dari melakukan perbedaan-perbedaan di dalamnya.’ Betapa setiap yang mencintai bahasa, doktrin utamanya adalah dia yang sungguh-sungguh mencintai perbedaan. Inilah saya kira tingkat keilmuan yang istimewa di ranah budaya. Kenyataan budaya  sekecil apapun, selembut bagaimanapun menjadi penting dan bermakna. Apalagi di sebalik perihal kuliner, perilaku, religi, teknologi, wisata, ritus-ritus sejarah dan lain sebagainya… (S. Jai)

Mereka

di Belakang Meja

Pagan Press adalah penerbit independen yang berikhtiar secara bertanggungjawab memberi tawaran terciptanya buku-buku yang baik, terpilih, dan lebih dari layak dalam pelbagai bidang pengetahuan.

S. Jai

Direktur

Mamik Sugiarti

Editor

Raushan Damir

Desain Grafis

Hana Endrianto

Administrasi